Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Mengapa Kenangan Masa Bayi Sulit Diingat? Penelitian Ini Menyajikan Jawabannya

Sebuah penelitian terbaru mengungkap alasan di balik sulitnya manusia mengingat pengalaman saat bayi, melalui analisis pada otak tikus yang terbit dalam jurnal ilmiah.

D
Dewi Kartika Lestari
11 July 2026 74 pembaca
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Jakarta - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita hampir tidak memiliki ingatan tentang peristiwa di masa bayi? Penelitian terbaru yang dilakukan pada otak tikus dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications berhasil memberikan penjelasan mengenai fenomena ini dari perspektif ilmu saraf.

Fokus Penelitian pada Hipokampus

Studi ini meneliti bagian dari hipokampus yang dikenal sebagai cornu ammonis 3 (CA3), yang memiliki peran penting dalam penyimpanan dan pengingatan memori. Neuron yang terdapat di CA3 memiliki kemampuan plastisitas, yaitu kemampuan untuk memperkuat atau melemahkan hubungan antar neuron, sehingga memori dapat menjadi lebih kuat atau memudar.

Para peneliti menemukan bahwa jaringan hipokampus pada awal kehidupan memiliki koneksi yang sangat padat, di mana banyak neuron terhubung dalam pola yang acak. Seiring dengan perkembangan otak, jaringan yang awalnya padat dan tidak teratur ini menjadi lebih jarang namun terstruktur, akibat dari pemangkasan koneksi (pruning) yang terjadi.

Proses Pemangkasan dan Implikasin pada Memori

Proses pemangkasan ini berlangsung setelah kelahiran dan mengakibatkan penurunan konektivitas yang signifikan saat memasuki masa remaja. Temuan ini bertentangan dengan pandangan bahwa hipokampus memulai kehidupannya sebagai 'tabula rasa' atau lembaran kosong.

"Dalam kesimpulannya, kami menemukan sistem ini bukanlah tabula rasa, seperti yang selama ini kami bayangkan, di mana informasi dapat begitu saja dituliskan hingga akhirnya memenuhi sistem," ungkap salah satu penulis studi, Peter Jonas, seorang ahli saraf dari Institute of Science and Technology Austria.

Ia menambahkan, "Sebaliknya, sistem ini justru dimulai sebagai tabula plena (lembaran yang sudah terisi penuh), lalu secara bertahap menjadi lebih jarang tetapi dengan koneksi yang lebih spesifik." Pola ini membantu menjelaskan mengapa manusia hanya dapat mengingat sedikit pengalaman dari masa bayi.

Selama ini, diyakini bahwa memori tersimpan dalam jaringan neuron yang aktif secara bersamaan untuk merepresentasikan pengalaman tertentu. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pada otak yang masih muda, hubungan antar-neuron atau sinaps berfungsi dengan cara yang berbeda.

Pada jaringan otak bayi, satu sinyal saja sudah cukup untuk mengaktifkan sebuah neuron. Sebaliknya, pada jaringan otak yang telah matang, umumnya sebuah neuron memerlukan beberapa sinyal sekaligus untuk dapat aktif. Kepekaan sinaps yang tinggi pada bayi ini memiliki dampak signifikan.

Ketika neuron terlalu mudah teraktivasi, berbagai pengalaman yang berbeda dapat memicu pola aktivitas yang saling tumpang tindih. Jika tumpang tindih ini terlalu besar, otak akan kesulitan membedakan satu memori dari yang lainnya. Akibatnya, alih-alih membentuk jaringan memori yang terpisah dengan jelas, otak justru menghasilkan ingatan yang lebih luas tetapi kurang spesifik.

Dengan kata lain, sistem memori pada awal kehidupan sangat aktif, tetapi belum cukup presisi. Seiring bertambahnya usia, neuron menjadi lebih selektif dan memerlukan beberapa sinyal agar dapat aktif. Hasilnya adalah terbentuknya jaringan saraf yang lebih terpisah dan jelas, sehingga menghasilkan memori yang lebih spesifik dan stabil.

"Orang mungkin mengira bahwa pada tahap awal perkembangan, sinaps masih lemah dan belum berkembang dengan baik. Namun, yang kami temukan justru sebaliknya," tegas Jonas, yang mengaku terkejut bersama timnya atas temuan ini.

// Artikel Terkait