Jakarta - Baru-baru ini, media sosial dihebohkan oleh kasus dugaan child grooming yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah di sebuah SMK swasta di Pamulang, Tangerang Selatan. Dalam informasi yang beredar, kepala sekolah tersebut telah dinonaktifkan oleh pihak sekolah karena diduga mengincar siswi yang mengalami kekurangan perhatian dari sosok ayah di rumah.
Meskipun tidak semua anak yang tidak memiliki figur ayah menjadi korban, dr. Lahargo Kembaren, seorang spesialis kedokteran jiwa, menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami kekosongan figur ayah lebih rentan terhadap manipulasi emosional, termasuk child grooming. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak yang kurang mendapatkan kelekatan emosional dari lingkungan rumah mereka.
Kebutuhan Emosional Anak
Secara umum, anak-anak memerlukan rasa aman, validasi, perhatian, figur pelindung, dan penerimaan emosional. "Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, lalu ada orang dewasa yang hadir dengan perhatian intens, memuji, mendengarkan, dan memberi rasa 'dipahami', anak bisa menjadi lebih mudah dekat secara emosional," ungkap dr. Lahargo.
Dia menambahkan bahwa pelaku child grooming biasanya sangat pandai dalam membaca celah psikologis anak. Mereka dapat tampil sebagai sosok yang hangat, suportif, dan seolah-olah menjadi penolong, padahal sebenarnya mereka sedang membangun ketergantungan emosional pada anak.
Pencegahan yang Dapat Dilakukan Orang Tua
Untuk mencegah terjadinya hal serupa pada anak, orang tua perlu membangun hubungan emosional yang baik. Membangun komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi akan membuat anak merasa nyaman untuk berbagi cerita. Selain itu, penting untuk mengajarkan batasan tubuh, privasi, dan relasi yang sehat sejak dini.
Dr. Lahargo juga menekankan pentingnya mengenali perubahan perilaku anak, seperti menjadi tertutup, merasa takut pada orang tertentu, atau terlalu dekat dengan orang dewasa tertentu. "Tingkatkan quality time dan kelekatan emosional dalam keluarga," ujarnya.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah mengawasi interaksi digital anak. Saat ini, child grooming juga banyak terjadi melalui media sosial atau chat pribadi. "Anak yang merasa dicintai, didengar, dan memiliki rumah yang aman secara emosional biasanya lebih kuat terhadap manipulasi predator," tandasnya.