Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Menangis di Panggung, Menteri Lingkungan Hidup Pertanyakan Kritikan terhadap Program Gizi

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengekspresikan emosi saat menutup Konferensi Sungai Indonesia 2026 di Mojokerto, terkait kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia meny...

R
Reza Mahendra
28 July 2026 57 pembaca
Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)

Jakarta - Mohammad Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup, tidak dapat menahan air matanya saat menutup Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang diadakan di Mojokerto, Jawa Timur. Kesedihannya dipicu oleh kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menurutnya seharusnya tidak dicemooh.

"Orang yang lapar dikasih makan, Anda cerca, jangan dong, nggak boleh. Sorry saya kaya gini sangat sensitif karena saya tahu persis," ungkap Jumhur sambil menangis di atas panggung KSI 2026, seperti dilaporkan pada Selasa (28/7/2026).

Masalah Kelaparan di Indonesia

Menanggapi pertanyaan mengenai tangisannya, Jumhur menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 22 juta penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan kronis. Menurutnya, angka tersebut diperoleh dari studi yang dilakukan oleh ADB bersama Bappenas antara tahun 2016 hingga 2018.

"Kelaparan kronis itu tahu apa? Artinya dia tuh sudah siap mati untuk lapar. Dan mohon maaf ya, banyak budaya kita yang tidak berani mengungkapkan, akhirnya dia mati. Itu banyak budaya kita. Tidak berani melawan, gitu ya," jelasnya.

Pentingnya Program Gizi

Jumhur menekankan bahwa kelaparan kronis adalah masalah serius yang memerlukan perhatian, sama halnya dengan isu stunting. Berdasarkan informasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) pada Maret 2026, jumlah penerima manfaat program ini telah mencapai 61.239.037 orang, dengan 49.057.682 di antaranya adalah siswa sekolah. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan program makan sekolah terbesar di dunia.

"Tapi yang setengah kelaparan kronis kan ada juga. Yang tadi makannya mungkin seminggu cuman dua kali itu tiga kali. Tapi yang makannya 3 hari sekali atau 2 hari sekali juga ada, itu juga kurang makan juga. Itu mungkin bisa 50, 60, 70 juta orang. Dan itulah yang menjadi subjek bagi distribusi MBG sebetulnya," terang Jumhur.

Ia juga mengakui adanya penyimpangan dalam pengelolaan MBG dan menegaskan kesiapan untuk menghadapi pihak-pihak yang menentang program prioritas Presiden Prabowo ini.

// Artikel Terkait