Sunday, 16 August 2026
Politik & Hukum

Memperingati 30 Tahun Kudatuli di Surabaya, Puti Guntur: Tragedi untuk Seluruh Rakyat Indonesia

Ratusan anggota dan pendukung PDI Perjuangan berkumpul di Surabaya untuk memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli, mengingatkan pentingnya sejarah bagi generasi muda.

S
Salsabila Nur Azzahra
26 July 2026 67 pembaca
Peringatan 30 Tahun Kudatuli di Surabaya, Puti Guntur: Ini Tragedi Rakyat Indonesia
Peringatan 30 Tahun Kudatuli di Surabaya, Puti Guntur: Ini Tragedi Rakyat Indonesia
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan memenuhi Posko Pandegiling di Jalan Pandegiling, Surabaya, pada malam Jumat (24/7), dalam rangka memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli yang terjadi pada 27 Juli 1996. Acara yang bertema Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan ini dirancang seperti mimbar demokrasi dan dihadiri oleh Puti Guntur Soekarno, cucu Bung Karno, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana, budayawan Agung Sinta, serta kader senior Promeg (Pro Megawati).

Seno, putra dari tokoh senior PDI Perjuangan Insinyur Sutjipto, membuka acara sebagai penjaga posko peninggalan ayahnya. Ia mengungkapkan rasa harunya saat mendengar himne partai berkumandang di tempat yang dulunya menjadi pusat aktivitas para kader. Seno menegaskan bahwa kehadirannya di posko ini adalah untuk melestarikan warisan keluarga yang juga menjadi saksi sejarah partai. Ia mengenang saat Megawati Soekarnoputri mengumumkan diri sebagai ketua umum PDI secara de facto di lokasi tersebut. "Di situlah baru saya menyadari bahwa keberanian itu adalah sebuah modal yang harus dipakai sebagai semangat perjuangan," ujarnya.

Pentingnya Memahami Sejarah

Puti Guntur Soekarno, yang menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, menekankan bahwa peristiwa Kudatuli bukan hanya sekadar catatan kelam bagi partainya atau keluarga Megawati, tetapi merupakan pelanggaran berat yang menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Ia berharap generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Y, dapat hadir dan memahami bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan para senior partai yang telah berkorban. "Mereka yang harus berterima kasih ketika hari ini mereka bisa bersuara," ujarnya. Puti kemudian memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang para pejuang yang telah meninggal dunia. "Mari kita heningkan cipta untuk almarhum Pak Sutjipto, untuk almarhum Pak Sukomo, untuk para sahabat pejuang, senior-senior pejuang yang telah meninggalkan kita," katanya.

Kronologi Peristiwa dan Harapan untuk Masa Depan

Bambang DH menceritakan kronologi menjelang kerusuhan yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa sehari sebelum kerusuhan di Jakarta pada hari Sabtu, para kader PDI Pro Megawati di Surabaya sempat merencanakan aksi turun ke jalan pada 28 Juli 1996. Namun, rencana tersebut batal setelah mendengar kabar kerusuhan di Jakarta, sehingga hanya sekitar lima ribu orang yang tetap turun ke jalan. Massa bergerak dari Kebun Binatang Surabaya menuju Jalan Diponegoro, namun mereka dipukul mundur oleh aparat, dan beberapa kader ditangkap serta ditahan di Kodim Surabaya Selatan. Di akhir ceritanya, Bambang menyampaikan harapan agar peristiwa serupa tidak terulang. "Intinya, tentara dan polisi, alat negara, jangan lagi digunakan sebagai alat kekuasaan," kata Bambang DH.

Bonnie Triyana menyebut Posko Pandegiling sebagai benteng moral yang berkontribusi dalam mempertahankan demokrasi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perjuangan politik yang telah dicapai belum lengkap tanpa adanya demokrasi ekonomi. "Kalau tembok-tembok di sini bisa bersaksi, kalau batu kerikil di jalanan ini bisa bicara, maka ia akan mengatakan bahwa Pandegiling ini adalah benteng moral, benteng yang mempertahankan demokrasi di Indonesia," ujarnya. Anggota DPR RI tersebut berharap agar kisah-kisah dari para saksi sejarah didokumentasikan untuk diwariskan kepada kader muda partai. "Tanpa Bapak Ibu semua, tanpa pejuang-pejuang demokrasi di sini yang mempertaruhkan nyawanya, Indonesia hari ini tidak akan mengalami demokrasi," ujar Bonnie.

Budayawan Agung Sinta menambahkan bahwa perjuangan menjelang Kudatuli tidak hanya terjadi di Jakarta dan Surabaya, tetapi juga mengguncang Malang, Tulungagung, Jember, Banyuwangi, hingga Ponorogo pada Juli 1996. "Saya ini hanya ibarat sebutir pasir di laut, tetapi saya sejelek apa pun ikut melahirkan Banteng Bulat Moncong Putih dari Promeg," katanya. Ia juga menceritakan sosok Bu Sulika, seorang perempuan berusia 80 tahun yang merupakan marhaenis sejati dan tak pernah absen ke Jakarta setiap ada pergerakan PDI, serta Pak Kateni yang rutin mengangkut sesama kader dengan truk membawa bekal beras dan kompor untuk aksi di Jakarta.

Senior kader Baktiono mengenang pengorbanan simpatisan seperti Mas Rianto dan Solikin yang dipukuli aparat saat berkampanye mengenakan kaus bergambar Megawati pada tahun 1997. Acara ini juga diisi dengan pameran sekitar 32 foto dokumentasi Peristiwa Kudatuli yang diambil oleh seorang fotografer yang mengaku kameranya pernah dirampas aparat saat mengabadikan momen penjemputan Megawati. "Dulu, 30-35 tahun lalu, dari seribu orang yang hadir di sini, yang membawa foto cuma saya. Sekarang semua orang membawa kamera. Itu bedanya," kata dia. Baktiono berharap agar kisah dan dokumentasi milik para senior kader lain juga turut dikumpulkan sebagai arsip sejarah partai.

Menjelang akhir acara, ketua panitia Setiawan mengumumkan rencana rangkaian peringatan lanjutan pada tahun 2027 yang bertepatan dengan 100 tahun berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) dan 80 tahun usia Megawati Soekarnoputri. Acara di Posko Pandegiling ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh sejumlah senior kader.

// Artikel Terkait