Saturday, 15 August 2026
Politik & Hukum

Megawati Terima Dubes Korsel dan UEA, Diskusikan Isu Perdamaian

Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI, menerima kunjungan dari Duta Besar Korea Selatan dan Uni Emirat Arab di kediamannya, membahas berbagai isu penting termasuk perdamaian di Semenanjung Korea.

D
Doni Setiawan
14 July 2026 87 pembaca
Megawati Terima Dubes Korsel dan UEA, Bahas Perdamaian
Megawati Terima Dubes Korsel dan UEA, Bahas Perdamaian
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyambut kunjungan kehormatan dari Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Yoon Soon-gu, dan Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem Obaid Al Dhaheri, di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (13/6) sore.

Pertemuan dengan Duta Besar Korea Selatan

Dalam pertemuan dengan Dubes Yoon, Megawati didampingi oleh putranya, M. Prananda Prabowo, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDIP, serta Ketua DPP Rokhmin Dahuri dan Ahmad Basarah. Dubes Yoon mengungkapkan rasa terhormatnya dapat bertemu dengan keluarga Soekarno di ruangan yang penuh dengan sejarah perjuangan bangsa. "Saya terhormat karena hari ini bisa bertemu Ibu Megawati dan bisa berkunjung ke ruangan ini. Sejarah bangsa Indonesia ada di ruangan ini. Saya melihat banyak foto Presiden Soekarno, foto Ibu Megawati dan saya bertemu dengan Ibu dan anak Ibu secara langsung," ujarnya, yang disambut senyuman Megawati dan Prananda.

Dalam diskusi mengenai dinamika di Semenanjung Korea, Dubes Yoon sangat menghargai perhatian Megawati terhadap isu tersebut. Ia percaya bahwa Megawati memiliki pengalaman dan kedekatan dengan kedua Korea, yang dapat menjadi modal penting dalam mendorong dialog damai. "Ibu Mega punya pengalaman, keahlian serta kedekatan dengan dua negara yakni Korea Utara dan Korea Selatan. Sehingga menjadi modal sebagai perantara bagi kedua negara untuk mau bersama melakukan dialog damai di meja perundingan," tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya adanya dialog tanpa syarat dengan Korea Utara.

Menanggapi hal tersebut, Megawati berbagi pengalamannya sebagai utusan perdamaian dari Presiden Korea Selatan pada masa Kim Dae Jung. Ia menceritakan usulannya untuk mengadakan reuni antarkeluarga yang terpisah akibat perang dan mendorong kerja sama ekonomi antara kedua negara. "Saya saat itu mengusulkan adanya pertemuan dan reuni antarkeluarga yang terpisah akibat terbelahnya Korea di garis batas Pamunjon. Serta mengusulkan adanya kerjasama ekonomi antara kedua negara serumpun," jelas Megawati. Dubes Yoon pun menilai Megawati adalah sosok yang tepat untuk menjadi utusan khusus perdamaian dan berjanji akan menyampaikan pembicaraan tersebut kepada Presiden Lee Jae-myung.

Pertemuan dengan Duta Besar Uni Emirat Arab

Setelah pertemuan dengan Dubes Korea Selatan, Megawati juga menerima kunjungan dari Dubes UEA, Abdulla Salem Al Dhaheri. Dalam pertemuan ini, Megawati didampingi oleh Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai, Andi Widjajanto, serta Direktur Eksekutif Megawati Institute, Hilmar Farid. Dubes Al Dhaheri menyampaikan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. "Terima kasih telah mampir berkunjung ke rumah saya di Abu Dhabi pada Februari lalu. Saya meneruskan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dia tahu pertemuan ini dan mengirimkan salam hangat kepada Ibu," ungkapnya.

Diskusi dalam pertemuan ini mencakup isu-isu geopolitik di Timur Tengah serta penguatan kerja sama di berbagai bidang. Megawati mendorong kolaborasi antara Pemerintah UEA dengan Megawati Institute, terutama dalam bidang toleransi beragama, Pancasila, dan kajian tokoh pendiri bangsa. Selain itu, sebagai anggota Dewan Pengarah BRIN, ia juga meminta agar kerja sama riset dengan UEA diperkuat, termasuk penelitian mangrove yang saat ini sedang berlangsung di Bali.

// Artikel Terkait