Wednesday, 01 July 2026
Politik & Hukum

Megawati Soroti Harga Cabai dan Persahabatan dengan Prabowo di Blitar

Dalam pidato di Blitar, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan keprihatinan terhadap harga cabai yang melambung tinggi serta menegaskan hubungan baiknya dengan Prabowo Subianto meskipun memiliki pandang...

I
Intan Permatasari
16 June 2026 34 pembaca
Pidato di Blitar, Megawati Bicara Harga Cabai dan Persahabatan dengan Prabowo
Pidato di Blitar, Megawati Bicara Harga Cabai dan Persahabatan dengan Prabowo
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengungkapkan bahwa ia menerima laporan mengenai harga cabai di salah satu daerah di Indonesia yang mencapai Rp 180 ribu per kilogram. Pernyataan tersebut disampaikan Megawati setelah meresmikan renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, pada hari Senin, 15 Juni.

"Daerah Timur, saya dapat laporan cabai itu harganya Rp 180.000," ujarnya dalam pidato pasca-peresmian. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan kader dan simpatisan PDI Perjuangan.

Menyoroti Etika dalam Penyampaian Aspirasi

Megawati mengingatkan kepada masyarakat dan kader partai untuk memahami tata cara serta etika dalam menyampaikan keluhan terkait kebijakan ekonomi. Ia menekankan bahwa meskipun PDI Perjuangan tidak berada dalam pemerintahan, partai ini akan tetap menyuarakan aspirasi masyarakat, termasuk isu kenaikan harga cabai melalui DPR.

"Ya, saya akan menyampaikan, tetapi menyampaikannya ke siapa, yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Begitu, lo. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” tambahnya.

Dinamika Demokrasi dan Hubungan dengan Prabowo

Dalam pidatonya, Megawati juga membahas dinamika demokrasi yang terjadi belakangan ini, termasuk demonstrasi mahasiswa yang berlangsung pada Jumat, 12 Juni. Ia menyoroti pentingnya keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat di ruang publik tanpa rasa takut, serta mengkritik pengawalan ketat aparat keamanan.

"Nah, saya berani ngomong begini, terus saya mau ditangkap? Ayo, mana di sini ada polisi? Panggil sini,” tegas Megawati.

Lebih lanjut, Megawati menegaskan bahwa dirinya bukanlah musuh Presiden Prabowo Subianto, meskipun mereka memiliki pandangan politik yang berbeda. "Pak Prabowo sama saya bersahabat, tetapi, kan, seharusnya dipisahkan, bersahabat, ya, bersahabat, tetapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi, tetapi saya bukan musuh dia, itu teman saya," jelasnya.

Ia juga menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni lalu, guna menanggapi upaya pihak-pihak yang ingin memisahkan mereka. "Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku, kan, gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya," ungkapnya.

Megawati juga menyampaikan keprihatinan terhadap nasib petani yang dianggap sebagai 'Soko Guru' bangsa, sesuai dengan ajaran Marhaenisme dari Bung Karno. Ia menekankan pentingnya mengorganisasikan petani agar dapat mandiri dan mewujudkan kedaulatan pangan.

Dia kembali mengingatkan instruksi yang telah dikeluarkan sejak 2021 kepada seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman sepuluh jenis tanaman pangan pendamping beras guna menghindari ancaman kelaparan. "Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDIP. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tetapi saya masih bisa berteriak seperti ini, mbok, ya, semangat," tutupnya.

// Artikel Terkait