Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Lebih dari 700 Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Semarang

Sebanyak 707 orang, termasuk siswa dan guru, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis di Semarang. Kepala Badan Gizi Nasional melakukan kunjungan untuk memantau kondisi para...

L
Lucas Fabian
03 August 2026 55 pembaca
Foto: Antara Foto/Andri Saputra
Foto: Antara Foto/Andri Saputra

Jakarta - Pada hari Sabtu (1/8/2026), Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengunjungi para korban yang diduga mengalami keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Semarang. Kunjungan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi kesehatan para korban dan memastikan penanganan yang diberikan oleh pihak rumah sakit berjalan dengan baik.

Selama kunjungannya, Sudaryono mendatangi beberapa rumah sakit yang merawat para korban, termasuk RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum. Kunjungan ini merupakan respons cepat dari pemerintah setelah insiden yang melibatkan ratusan siswa dan guru di SMK Negeri 6 Semarang.

Jumlah Korban dan Gejala yang Dialami

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan bahwa sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis yang dibagikan di sekolah pada hari Jumat (31/7/2026). Dari jumlah tersebut, 693 di antaranya adalah siswa dan 14 orang merupakan guru.

Para korban umumnya melaporkan gejala seperti pusing, mual, dan muntah setelah mengkonsumsi makanan tersebut. Beberapa dari mereka mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara yang lainnya menerima penanganan medis sesuai dengan kondisi masing-masing.

Investigasi dan Tindakan Selanjutnya

Menanggapi kejadian ini, Sudaryono menegaskan bahwa tim investigasi saat ini masih bekerja untuk menyelidiki penyebab insiden tersebut. Investigasi dilakukan untuk mengidentifikasi sumber masalah dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

"Tim investigasi masih bekerja untuk mendalami kasus ini. Kami ingin memastikan penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan yang komprehensif," kata Sudaryono. Ia juga menambahkan, "Jika nanti terbukti ada kelalaian, kami akan melakukan suspend terhadap SPPG yang terkait sambil menunggu hasil evaluasi dan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku."

Sampai saat ini, penyebab pasti dari dugaan keracunan tersebut masih menunggu hasil dari investigasi dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang terlibat.

// Artikel Terkait