Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman membantah isu yang menyatakan adanya intimidasi serta tekanan dari pemerintah atau aparat penegak hukum terhadap masyarakat dan organisasi masyarakat sipil yang bersikap kritis. Pernyataan ini disampaikan Dudung saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai hasil survei dari sebuah lembaga survei yang berlangsung di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, pada Rabu (13/5/2025).
Dudung menegaskan bahwa pemerintah bersikap terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat. "Bapak Presiden mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: Kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain," ujar Dudung, menjelaskan sikap Presiden Prabowo terhadap kritik.
Ajakan untuk Membangun Kesadaran Bersama
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menciptakan kesan adanya intimidasi dari pemerintah, karena perlakuan semacam itu tidak terjadi. "Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi. Kalau ada intimidasi berarti juga mengklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu," tambahnya. Dudung menekankan pentingnya semua kelompok masyarakat untuk mengedepankan hati nurani dan bersama-sama membangun bangsa, serta menjaga diri agar tidak mudah terpecah belah oleh isu-isu yang tidak benar.
Pada kesempatan yang sama, Dudung mengingatkan kembali pesan dari mendiang Presiden Ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). "Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain," ungkapnya.
Penerimaan Terhadap Kritik dari Presiden Prabowo
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo juga sering menyatakan bahwa dirinya tidak anti kritik dan siap untuk mengoreksi diri ketika menerima masukan dari berbagai pihak. Dalam pidatonya pada acara Puncak Perayaan Natal di awal tahun 2026, Presiden Prabowo menyatakan bahwa kritik dan koreksi merupakan bentuk dukungan dari pihak-pihak yang memberikan masukan tersebut. "Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan," jelasnya.
Presiden Prabowo memberikan contoh sederhana mengenai pentingnya koreksi dari bawahannya. "Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi," tuturnya. Ia menambahkan bahwa koreksi tersebut bertujuan untuk menjaga penampilannya. "Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak lengkap. Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan," tutup Presiden Prabowo.