Wednesday, 10 June 2026
Kesehatan

Kopi Konservasi dari Boyolali: Menyehatkan Tubuh dan Lingkungan

Kopi tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi pengonsumsinya, tetapi juga berkontribusi pada konservasi lingkungan melalui budidaya yang ramah alam di Boyolali, Jawa Tengah.

P
Patrick Jonathan
08 May 2026 11 pembaca
Kopi Konservasi dari Boyolali: Menyehatkan Tubuh dan Lingkungan
Penampakan kopi agroforesti di Boyolali. (Foto: DetikHealth/Averus Al Kautsar)

Jakarta - Siapa yang tidak menyukai kopi? Selain memberikan energi, kopi juga kaya akan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari kopi antara lain meningkatkan fungsi kognitif, melawan peradangan, serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe dua dan penyakit jantung. Namun, di Dukuh Gumuk, Desa Mriyan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, manfaat kopi tidak hanya berhenti pada kesehatan individu, tetapi juga berperan dalam menjaga kelestarian aliran Sungai Pusur.

Di wilayah ini, budidaya kopi arabika dilakukan dengan metode agroforestri yang bertujuan untuk konservasi air di hulu daerah aliran Sungai Pusur, yang melintasi Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan penanaman pohon dengan pertanian atau peternakan dalam satu area. Metode ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga lingkungan dengan memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi erosi.

Keunikan Budidaya Kopi di Dukuh Gumuk

“Pohonnya (kopi) itu tidak terlalu tinggi, perlakuannya itu sangat mudah. Karena kalau tinggi, dipangkas dan tidak mengganggu tanaman yang sudah ada, misalnya komoditas tembakau dan mawar,” ungkap Joko Susanto, Ketua Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (Pakem) Dukuh Gumuk, saat berbincang dengan wartawan.

Selain kopi, lahan tersebut juga ditanami berbagai jenis tanaman lain seperti pohon alpukat, mawar, dan tembakau. Kombinasi ini memberikan aroma khas pada kopi yang dihasilkan, membuatnya memiliki karakteristik unik. Kopi yang dinamakan 'kopi gumuk' dalam program 'kopi konservasi' ini memiliki rasa cenderung asam dan ringan, sehingga cocok bagi mereka yang tidak menyukai rasa pahit kopi.

“Ada hint aroma mawar dan tembakaunya. Kopinya itu cenderung asam,” tambah Joko Susanto.

Inisiatif Konservasi Air oleh Aqua

Program agroforestri budidaya kopi di Dukuh Gumuk diinisiasi oleh Aqua sejak tahun 2017 sebagai bagian dari upaya konservasi air di hulu daerah aliran Sungai Pusur. Konservasi ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan air yang berkelanjutan, melindungi kemurnian air, serta melestarikan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Jeffri Ricardo, Senior Manager Public Affairs and Sustainability Aqua, berharap melalui program ini, Aqua dapat mengembalikan lebih banyak air ke alam dibandingkan yang digunakan untuk produksi. “Jadi kami punya komitmen untuk bisa memulihkan lebih banyak air daripada yang kami gunakan, seperti itu. Nah untuk itu, pendekatan intervensi yang kami lakukan itu memang terintegrasi dari hulu sampai hilir,” jelasnya.

Konservasi yang dilakukan tidak hanya terbatas pada budidaya kopi. Berbagai kegiatan lain seperti budidaya anggrek, pembentukan pusat belajar konservasi komunitas, penanaman tanaman keras, serta kerjasama dengan Taman Nasional Gunung Merapi juga dilakukan. Selain itu, upaya konservasi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan di area sub-daerah aliran Sungai Pusur.

“Yang dilaksanakan itu sebenarnya berdasarkan identifikasi dari kajian dan studi ilmiah yang dilakukan dengan beberapa akademik dan perguruan tinggi. Kalau kita berbicara untuk bisa menyerapkan air lagi kembali ke area imbuhan air, itu intervensi di mana saja dan apa saja,” tutup Jeffri.

// Artikel Terkait