Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

--- Kondisi Tubuh Saat Mengalami Radang Usus Buntu: Penjelasan Selebgram Fahira Almira ---

--- Selebgram Fahira Almira menjadi sorotan setelah memilih menjalani pengobatan di Malaysia terkait radang usus buntu yang dideritanya. Penjelasan mengenai gejala dan diagnosis radang usus buntu juga...

N
Nabila Safira Putri
13 August 2026 39 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Chinnapong)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Chinnapong)
---TITLEEXCERPT--- Selebgram Fahira Almira menjadi sorotan setelah memilih menjalani pengobatan di Malaysia terkait radang usus buntu yang dideritanya. Penjelasan mengenai gejala dan diagnosis radang usus buntu juga diungkapkan oleh seorang ahli. ---CONTENT---

Jakarta - Selebgram Fahira Almira tengah menjadi perbincangan hangat setelah memutuskan untuk menjalani pengobatan di Penang, Malaysia, terkait masalah pada sistem pencernaannya. Sebelumnya, saat menjalani pemeriksaan di sebuah rumah sakit di Indonesia, ia didiagnosis mengalami radang usus buntu. Namun, setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Malaysia, diagnosis yang diterimanya berbeda.

Radang usus buntu adalah kondisi yang cukup umum dan diagnosisnya tidak hanya bergantung pada keluhan yang disampaikan pasien. Ada berbagai gejala serta pemeriksaan yang dapat membantu dokter dalam memastikan adanya kondisi tersebut.

Pemahaman tentang Radang Usus Buntu

Prof. Ari Fahrial Syam, seorang Guru Besar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, menjelaskan bahwa radang usus buntu atau apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada bagian appendix. Menurutnya, pasien yang mengalami radang usus buntu seringkali datang dalam keadaan akut. Salah satu gejala khas yang dapat dikenali adalah nyeri tekan di bagian kanan bawah perut.

Dalam kondisi yang lebih parah, nyeri tersebut bisa sangat hebat sehingga pasien mengalami kesulitan untuk berjalan dan cenderung memegang area perut yang terasa sakit. Rasa sakit ini juga dapat meningkat saat pasien bergerak.

Diagnosis dan Pemeriksaan Radang Usus Buntu

Selain gejala yang muncul, pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis. Prof. Ari menambahkan bahwa pada pasien dengan radang usus buntu, kadar sel darah putih atau leukosit biasanya akan meningkat. "Nilai normal leukosit itu 5.000 sampai 10.000. Rata-rata lab menggunakan kriteria itu, jadi bisa saja ditemukan leukosit di atas 10.000," jelasnya.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan C-reactive protein (CRP) untuk mendeteksi adanya infeksi. Untuk memperkuat diagnosis, pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen juga dapat dilakukan. Menurut Prof. Ari, pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya pembengkakan pada appendix. Salah satu parameter yang dapat dinilai melalui USG adalah diameter appendix.

"Nah, untuk diagnosis itu tadi bisa saja dilakukan pemeriksaan USG abdomen. Jadi USG abdomen itu bisa menemukan adanya donati, kita bilang donati sains atau sosis sains yang menunjukkan adanya pembengkakan dari appendix tersebut. Jadi kalau disebutkan 8 itu sudah tidak normal, karena nilai normal kurang dari 6 ya, jadi 6, 4 sampai 6 itu masih oke," tuturnya.

Lebih lanjut, Prof. Ari menjelaskan bahwa kondisi radang usus buntu dapat mengalami perubahan setelah pasien mendapatkan pengobatan. Jika pada awalnya pasien mengalami apendisitis akut, gejalanya bisa mereda setelah pengobatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu. Namun, meredanya gejala tidak selalu menunjukkan bahwa kondisi pada appendix telah sepenuhnya teratasi. Dalam beberapa kasus, pasien dapat berada dalam fase apendisitis kronis yang sewaktu-waktu bisa kembali mengalami serangan akut.

"Bisa saja pasien masih ada dalam fase appendicitis kronis. Nah, itu kronis, waktu-waktu bisa saja kambuh akut," jelas Prof. Ari.

// Artikel Terkait