Ekonom senior dari INDEF, Didik J. Rachbini, memberikan peringatan mengenai penurunan daya beli masyarakat dan mengecilnya kelas menengah pada Minggu, 9 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa kondisi fiskal negara yang terbatas membuat belanja pemerintah hanya berfungsi sebagai penyangga ekonomi dalam jangka pendek.
Fundamental ekonomi Indonesia, yang selama ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan pengeluaran negara, kini menghadapi tantangan serius. Dalam rilis resmi yang dikeluarkan pada tanggal tersebut, Didik menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan terkait dengan struktur demografi ekonomi, yaitu menyusutnya populasi kelas menengah. Kelompok ini, yang selama ini menjadi pilar perekonomian melalui daya beli mereka, kini mengalami tekanan yang semakin berat.
"Faktor konsumsi masyarakat saat ini sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah kita sudah tergerus dan menurun jumlahnya. Kondisi ini secara langsung menghambat laju pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi masyarakat," ungkap Didik saat menjelaskan akar permasalahan yang ada.
Pemerintah Harus Mencari Solusi Jangka Panjang
Ketika konsumsi masyarakat mengalami penurunan, pemerintah biasanya akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk meningkatkan belanja pemerintah. Namun, Didik menegaskan bahwa pendekatan ini bukanlah solusi yang berkelanjutan. Ia memperingatkan bahwa belanja pemerintah tidak akan bertahan lama karena saat ini hanya berfungsi sebagai "penyangga" untuk mencegah pertumbuhan ekonomi nasional jatuh di bawah 5 persen.
"Apalagi kondisi fiskal kita juga punya masalah, baik dari sisi target penerimaan maupun beban pengeluaran. Oleh karena itu, (belanja pemerintah) tidak akan bertahan lama dan hanya bisa menjadi penyangga dalam jangka yang sangat pendek," tegas Didik, yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina, dalam keterangan yang disampaikan kepada Redaksi pada hari yang sama.
Mendorong Investasi dan Ekspor
Dengan melihat kerentanan pada dua pilar utama perekonomian ini, Didik mendesak pemerintah untuk segera mencari alternatif pertumbuhan yang lebih solid. Ia menilai satu-satunya cara untuk keluar dari jebakan pertumbuhan moderat adalah dengan melakukan reformasi struktural yang dapat mendorong investasi asing dan meningkatkan ekspor.
Pemerintah diharapkan tidak lagi membebani APBN dan masyarakat kelas menengah yang sedang mengalami kesulitan, melainkan mulai memberikan insentif bagi sektor industri agar mampu bersaing dan menarik devisa dari pasar internasional.