Wednesday, 10 June 2026
Kesehatan

Kisah Unik Wanita yang Mengalami Perubahan Kulit Setelah Mengonsumsi Antibiotik

Seorang wanita berusia 68 tahun di Amerika Serikat mengalami perubahan warna kulit yang mencolok setelah mengonsumsi antibiotik untuk mengobati peradangan wajah. Kasus ini menjadi perhatian dalam duni...

D
Dewi Kartika Lestari
17 May 2026 14 pembaca
Kisah Unik Wanita yang Mengalami Perubahan Kulit Setelah Mengonsumsi Antibiotik
Foto: The New England Journal of Medicine (NEJM)

Di Amerika Serikat, seorang wanita berusia 68 tahun mengalami kasus medis yang langka setelah mengonsumsi antibiotik untuk mengatasi peradangan kulit di wajahnya. Alih-alih sembuh, kulitnya justru dipenuhi bercak hitam misterius setelah menjalani pengobatan.

Kasus ini dipublikasikan dalam jurnal medis terkemuka, The New England Journal of Medicine (NEJM), pada 1 April 2026, dan menyoroti efek samping obat yang muncul dengan sangat cepat, jauh dari yang diperkirakan oleh tim medis.

Munculnya Bercak Gelap dalam Waktu Singkat

Awalnya, wanita tersebut diberikan resep antibiotik oral jenis Minosiklin (minocycline) dengan dosis 100 miligram per hari. Obat ini ditujukan untuk meredakan gejala rosacea, sebuah kondisi peradangan kronis yang menyebabkan kemerahan pada wajah dan timbulnya bintil-bintil mirip jerawat.

Minosiklin dipilih karena memiliki sifat antiinflamasi yang kuat. Namun, dalam waktu dua minggu setelah mulai mengonsumsi obat tersebut, bercak gelap mulai muncul di kulitnya. Dalam enam minggu, bercak tersebut menyebar ke seluruh lengan dan kaki, dengan variasi warna dari biru tua keunguan hingga hitam pekat. Saat pemeriksaan fisik dilakukan, dokter menemukan adanya "hiperpigmentasi" berwarna biru-abu-abu pada bagian tulang kering, lengan bawah, dan sisi samping lidahnya.

Diagnosis yang Tidak Biasa: Hiperpigmentasi Tipe II

Menurut laporan ilmiah yang ditulis oleh Aarti Maharaj dari University of Florida, wanita ini didiagnosis mengalami Hiperpigmentasi Terinduksi Minosiklin Tipe II. Kondisi ini ditandai dengan perubahan warna biru-abu-abu pada kulit di area luar lengan dan kaki.

Meskipun efek samping perubahan warna kulit akibat obat ini sudah dikenal dalam dunia medis, kasus ini tergolong unik karena kecepatan munculnya gejala. "Kondisi ini biasanya baru berkembang setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan (jangka panjang), namun dalam kasus yang jarang terjadi, bisa muncul dalam durasi pengobatan yang sangat singkat," tulis laporan tersebut.

Secara ilmiah, hal ini terjadi karena metabolit dari antibiotik tersebut mengikat zat besi dalam tubuh dan menumpuk di dalam sel imun kulit. Obat ini juga merangsang sel penghasil melanin untuk beraktivitas berlebihan, sehingga menghasilkan gumpalan pigmen gelap yang tertinggal di jaringan kulit.

Setelah melihat kondisi yang dialami pasien, tim dokter segera menyarankan untuk menghentikan konsumsi Minosiklin. Pasien juga disarankan untuk menghindari paparan sinar matahari, karena sinar ultraviolet dapat memperburuk kondisi pigmen gelap tersebut.

Setelah enam minggu pengobatan dihentikan dan dilakukan evaluasi selama enam bulan, bercak hitam-biru di tubuh wanita tersebut dilaporkan mulai memudar, meski bekasnya masih terlihat jelas. Dalam dunia medis, dicatat bahwa setelah seseorang berhenti mengonsumsi obat ini, pigmentasi gelap di kulit dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk hilang sepenuhnya. Bahkan, pada beberapa kasus tertentu, perubahan warna kulit tersebut bisa bersifat permanen dan tidak akan pernah hilang.

// Artikel Terkait