Di Malaysia, pasien yang mengalami gagal ginjal, terutama pada tahap serius, sering kali disarankan untuk menjalani dialisis atau cuci darah. Banyak dari mereka harus berjuang melawan kondisi kesehatan yang semakin memburuk, biaya pengobatan yang tinggi, dan kehilangan pekerjaan demi menjalani perawatan yang diperlukan.
Salah satu pasien, Vijiya, seorang wanita berusia 62 tahun dari Petaling Jaya, mengungkapkan bahwa dialisis sangat menguras energinya dan membuatnya mudah pingsan. "Dialisis menguras energi saya dan bahkan membuat saya mudah pingsan," ujarnya. Saat ini, Vijiya harus menjalani cuci darah secara rutin untuk mempertahankan hidupnya. Ia mengaku bahwa rutinitas mingguan tersebut sangat membebani kondisi fisik dan kehidupannya sehari-hari.
Vijiya mengurus semua kebutuhan perawatan sendiri, termasuk transportasi ke rumah sakit dan pusat dialisis. Ia melakukan pemeriksaan di rumah sakit pemerintah dan harus membayar sekitar RM200 atau sekitar Rp 891.047 untuk setiap kunjungan. "Bahkan ketika saya turun dari flat di lantai 11 saya harus duduk dan beristirahat sebelum naik taksi," tambahnya. Vijiya telah menjalani dialisis sejak usia 55 tahun saat masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Meskipun biaya pengobatan ditanggung oleh Organisasi Jaminan Sosial (PERKESO), ia tetap harus menanggung biaya tambahan untuk transportasi dan kebutuhan sehari-hari.
Kesehatan yang Menurun dan Biaya Pengobatan
Pengalaman serupa juga dialami oleh Jamilah, seorang pemilik usaha makanan berusia 65 tahun yang juga tinggal di Petaling Jaya. Ia mengungkapkan bahwa kesehatannya semakin menurun sejak rutin menjalani dialisis. "Saya hampir tidak mampu menjalankan usaha makanan saya. Saya menghabiskan berjam-jam menjalani dialisis dan setelahnya, saya merasa terlalu lelah untuk melanjutkannya," jelas Jamilah.
Jamilah telah menjalankan usaha makanan selama 10 tahun untuk membayar cicilan rumah dan mobilnya. Namun, kondisi kesehatannya kini membuatnya semakin sulit untuk melanjutkan aktivitas tersebut. Biaya dialisis yang harus ia tanggung berkisar antara RM3.000 hingga RM4.000 atau sekitar Rp 13-17 juta. Beruntung, biaya tersebut masih ditanggung oleh asuransi milik putrinya. Ia mulai menjalani cuci darah sejak Juli 2025 setelah mengalami influenza, dan saat diperiksa, dokter menemukan bahwa ginjalnya sudah mengalami gagal ginjal.
Peningkatan Jumlah Pasien Dialisis
Konsultan senior nefrologi dari Fakultas Kedokteran Universitas IMU, Assoc Prof Datuk Dr Lily Mushahar, menjelaskan bahwa satu sesi hemodialisis selama empat jam memerlukan sekitar 500 liter air. Pasien biasanya memerlukan 12 hingga 13 sesi dialisis setiap bulan. "Dialisis tidak terlalu baik untuk jejak karbon, terutama hemodialisis, karena utilitas (air, listrik) dan barang sekali pakai yang tinggi. Tetapi kita tidak dapat menghindari hal ini untuk terapi hemodialisis, sementara dialisis peritoneal lebih ramah lingkungan," ungkap Dr Lily.
Ia menambahkan bahwa penggunaan air ultra-murni untuk dialisis juga membutuhkan volume air yang lebih besar karena prosesnya lebih intensif dan mahal. "Satu-satunya hal yang mengarah ke dialisis hijau sejauh ini adalah daur ulang air, misalnya, dengan menggunakan air buangan untuk tujuan lain," jelasnya. Dalam tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Kidney International pada Juli 2023, penggunaan air global untuk hemodialisis diperkirakan mencapai sekitar 265 juta meter kubik per tahun. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dua pertiga air dari proses osmosis terbalik pada dialisis akhirnya terbuang ke saluran pembuangan.
Berdasarkan Laporan Tahunan Terapi Penggantian Ginjal Global 2022, hemodialisis menjadi metode pengobatan yang paling banyak digunakan untuk pasien penyakit ginjal stadium akhir, dengan sekitar 90 persen pasien dialisis di dunia atau sekitar 3,4 juta orang memilih terapi ini. Jumlah pasien dialisis juga dilaporkan terus meningkat sekitar 7 persen setiap tahun, yang otomatis meningkatkan penggunaan air dan limbah yang dihasilkan dari unit dialisis di berbagai negara. Oleh karena itu, para peneliti mendorong penerapan konsep "3R" dalam pengelolaan air dialisis, yaitu mengurangi penggunaan, menggunakan kembali air limbah, dan mendaur ulang limbah dialisis untuk kebutuhan lain seperti pertanian maupun akuaponik.