Sunday, 16 August 2026
Finansial

Kinerja BTN Menggembirakan, Laba Bersih Semester I/2026 Naik 40,8% dan NPL Menurun ke 2,99%

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan laba bersih yang signifikan dan perbaikan kualitas aset pada paruh pertama tahun 2026, di tengah tantangan ekonomi global.

R
Rangga Wijaya Kusuma
17 July 2026 88 pembaca
Konferensi Pers Paparan Kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026). (Dok: BTN)
Konferensi Pers Paparan Kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026). (Dok: BTN)
suara.com Sumber: suara.com

Di tengah tantangan ekonomi global, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih dan perbaikan kualitas aset pada semester I/2026. Laba bersih konsolidasi yang diraih mencapai Rp2,40 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 40,8% dibandingkan dengan Rp1,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, rasio non-performing loan (NPL) juga mengalami penurunan dari 3,3% pada semester I/2025 menjadi 2,99% di semester I/2026.

Strategi Transformasi yang Efektif

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa kinerja positif ini mencerminkan keberhasilan strategi transformasi BTN yang sejalan dengan arah transformasi Danantara Indonesia. BTN tidak hanya berupaya memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam pembiayaan perumahan nasional, tetapi juga berkomitmen untuk membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi. Ini bertujuan untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah, serta memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.

Nixon menambahkan, "Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini," dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta.

Peningkatan Penyaluran Kredit

Hingga semester I/2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2% dibandingkan Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan di sektor kredit perumahan yang mencapai 4,8% dari Rp317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026, serta lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1% dari Rp58,34 triliun menjadi Rp85,22 triliun.

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi pendorong utama kredit perumahan dengan peningkatan sebesar 8,1% dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak diluncurkan pada akhir Oktober 2025.

Untuk meningkatkan kredit non-perumahan, Nixon menjelaskan bahwa hal ini didukung oleh perluasan penetrasi di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, dan ritel. BTN juga bekerja sama dengan perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis.

Total aset konsolidasi BTN meningkat dari Rp484,96 triliun menjadi Rp545,16 triliun per semester I/2026, mencerminkan pertumbuhan sebesar 12,4%. Pertumbuhan ini menunjukkan kapasitas BTN yang semakin kuat dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional dan memperluas bisnis di ekosistem terkait.

Peningkatan Struktur Pendanaan

Pada sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN mencapai Rp433,00 triliun per semester I/2026, tumbuh 6,6% dari Rp406,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Nixon menjelaskan bahwa BTN terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui berbagai inisiatif, termasuk akuisisi dana ritel dan peningkatan transaksi digital.

Sejalan dengan penguatan struktur pendanaan, hingga semester I/2026, superapps Bale by BTN telah digunakan oleh lebih dari 4,3 juta pengguna. Peningkatan ini didukung oleh lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, dan 59 pemerintah daerah. Secara transaksi, jumlah dan nominal transaksi menggunakan Bale by BTN tumbuh masing-masing sebesar 41,6% dan 55,3% per Juni 2026.

Kualitas aset BTN juga menunjukkan perbaikan, dengan NPL yang membaik dan Loan at Risk (LAR) turun menjadi 18,6% di semester I/2026 dari 20,2% pada periode yang sama tahun lalu. BTN juga berhasil menekan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7% dari 2,0% di semester I/2025.

Nixon menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan BTN bertujuan untuk membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. "Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimistis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Akuisisi Portofolio untuk Pertumbuhan

Sebagai bagian dari strategi beyond mortgage, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp12,6 triliun. Nixon menjelaskan bahwa akuisisi ini memperkuat komposisi portofolio kredit non-perumahan BTN dan menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi.

Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas, sehingga mendukung perbaikan kualitas aset Perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas. "Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun," jelas Nixon.

BTN juga berencana melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp7,34 triliun, sehingga secara keseluruhan Perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun. Melalui strategi pertumbuhan anorganik ini, BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan.

// Artikel Terkait