Sunday, 16 August 2026
Tekno

Kerugian Akibat Penipuan Online di Indonesia Capai Rp7,5 Triliun

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa penipuan online di Indonesia telah menyebabkan kerugian mencapai Rp7,5 triliun, dengan lansia menjadi target utama.

P
Patrick Jonathan
02 July 2026 48 pembaca
Wamenkomdigi Nezar Patria mengungkap penipuan online di Indonesia telah merugikan masyarakat hingga Rp7,5 triliun. (Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Wamenkomdigi Nezar Patria mengungkap penipuan online di Indonesia telah merugikan masyarakat hingga Rp7,5 triliun. (Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNN Indonesia -- Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, menyatakan bahwa penipuan online di Indonesia telah merugikan masyarakat hingga Rp7,5 triliun. "Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance," ujarnya saat bertemu dengan Kaspersky di Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Selasa (30/6).

Target Penipuan yang Rentan

Nezar juga menekankan bahwa penipuan online sering kali menyasar warga lanjut usia (lansia). Menurutnya, kelompok ini sangat rentan terhadap scam yang semakin canggih, terutama yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Perkembangan teknologi AI yang pesat membuat modus penipuan semakin berbahaya, karena AI dapat meniru suara orang lain, sehingga korban lebih mudah percaya.

Modus Penipuan yang Semakin Canggih

Dia menjelaskan, "Scam yang paling bahaya dengan menelpon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih, karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang." Menyikapi meningkatnya kasus penipuan online yang semakin kompleks, pemerintah mendorong semua perusahaan telekomunikasi untuk mengimplementasikan fitur anti-scam guna melindungi konsumen.

Nezar menambahkan bahwa perusahaan telekomunikasi dapat melakukan asesmen mandiri untuk menentukan langkah implementasi yang sesuai dengan model bisnis masing-masing. Kaspersky sebelumnya juga memprediksi bahwa kualitas audio visual hasil deepfake AI semakin canggih, dan alat pembuatan konten ini kini lebih mudah diakses, bahkan oleh non-ahli, yang dapat membuat deepfake berkualitas menengah dalam waktu singkat.

Akibatnya, kualitas rata-rata konten semakin meningkat dan aksesibilitasnya meluas, yang tentunya akan dimanfaatkan oleh penjahat siber.

// Artikel Terkait