Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Kenaikan Kasus Bunuh Diri di Singapura: Usia 30-an Meningkat Drastis

Singapura mengalami lonjakan kasus bunuh diri pada tahun 2024, terutama di kalangan individu berusia 30 hingga 39 tahun, dengan angka yang meningkat hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

I
Intan Permatasari
28 July 2026 47 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion

Singapura mencatat total 441 kasus bunuh diri selama tahun 2024, dengan peningkatan yang mencolok pada kelompok usia 30 hingga 39 tahun. Sementara itu, jumlah kasus di kelompok usia lainnya mengalami penurunan. Data yang dirilis oleh Samaritans of Singapore (SOS) menunjukkan bahwa terdapat 99 kasus bunuh diri di kalangan usia 30-39 tahun, yang meningkat 50 persen dari 66 kasus pada tahun 2023.

SOS mengungkapkan bahwa bunuh diri kini menjadi penyebab kematian kedua tertinggi di kelompok usia tersebut. Layanan krisis 24 jam yang mereka kelola mencatat bahwa orang dewasa berusia 30-39 tahun sering menghadapi berbagai tekanan, seperti masalah keluarga, pekerjaan, dan isolasi sosial.

Data Kasus Bunuh Diri di 2025

Sementara itu, data sementara menunjukkan bahwa pada tahun 2025 terdapat 256 kasus bunuh diri di Singapura. Namun, SOS mengingatkan bahwa angka ini masih dapat berubah setelah proses investigasi selesai. Sebelumnya, angka sementara untuk tahun 2024 tercatat 314 kasus, tetapi setelah penyelidikan koroner, jumlah tersebut direvisi menjadi 441 kasus.

Menteri Koordinator Keamanan Nasional dan Menteri Dalam Negeri Singapura, K Shanmugam, menjelaskan bahwa data sementara hanya mencakup kasus yang sudah dipastikan sebagai bunuh diri saat laporan diterbitkan. Beberapa kematian yang tidak wajar masih menunggu hasil penyelidikan koroner untuk direklasifikasi sebagai bunuh diri setelah proses selesai.

Profil Korban Bunuh Diri

Dari total 441 kasus bunuh diri pada tahun 2024, sebanyak 290 korban atau 65,8 persen adalah pria, sedangkan 151 korban atau 34,2 persen adalah perempuan. SOS mencatat bahwa kesenjangan ini paling terlihat pada kelompok usia 60 tahun ke atas, di mana angka bunuh diri pria mencapai tiga kali lipat dibandingkan perempuan.

Menurut SOS, penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih terisolasi secara sosial dan enggan mencari bantuan saat mengalami tekanan emosional, serta lebih sering menggunakan metode yang mematikan dalam percobaan bunuh diri. Di kalangan lansia, masalah kesehatan dan kesepian menjadi faktor utama yang sering ditemukan seiring dengan penurunan kondisi fisik, mobilitas, dan hubungan sosial.

Di sisi lain, meskipun perempuan hanya menyumbang sekitar sepertiga dari total kasus bunuh diri, mereka mencakup 62,5 persen dari semua panggilan dan pesan yang diterima oleh layanan krisis SOS. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan lebih cenderung mencari bantuan ketika menghadapi tekanan psikologis, termasuk masalah pengasuhan dan kekerasan berbasis gender.

Bunuh diri juga tetap menjadi penyebab kematian utama pada kelompok usia 10-29 tahun di Singapura, dengan banyak masalah yang dihadapi berkaitan dengan tekanan dari keluarga, pendidikan, dan hubungan interpersonal. Secara keseluruhan, angka kematian akibat bunuh diri di Singapura meningkat sedikit menjadi 8,23 per 100.000 penduduk pada tahun 2024.

Direktur Medis Connections MindHealth, dr Jared Ng, mengingatkan bahwa setiap angka mewakili kehilangan yang mendalam bagi keluarga. "Ini seharusnya bukan hanya sekadar angka. Di balik setiap kasus ada orang tua yang terus bertanya apa yang mereka lewatkan, atau teman yang berharap sempat menghubungi kembali. Kesedihan itu bisa bertahan seumur hidup," ujarnya.

Selama setahun terakhir, SOS telah menangani lebih dari 55 ribu panggilan dan percakapan melalui layanan hotline 24 jam dan CareText. Organisasi ini juga berhasil mencegah satu upaya bunuh diri berisiko tinggi setiap 13 jam melalui intervensi krisis. Selain layanan darurat, SOS telah melatih lebih dari 2.000 orang di sekolah, tempat kerja, dan komunitas untuk mengenali tanda-tanda krisis psikologis dan mengarahkan individu yang membutuhkan ke layanan bantuan yang sesuai.

CEO SOS, Terry Siow, menegaskan bahwa pencegahan bunuh diri tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan mental atau layanan krisis. "Upaya pencegahan membutuhkan peran semua pihak, mulai dari keluarga, teman, rekan kerja, hingga tetangga untuk mengenali saat seseorang sedang kesulitan, berani memulai percakapan, dan mengarahkannya ke bantuan yang tepat," katanya.

// Artikel Terkait