Wednesday, 10 June 2026
Finansial

Kenaikan Harga Beras Terjadi di 111 Wilayah di Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa harga beras mengalami kenaikan di 111 kabupaten/kota pada minggu kedua Mei 2026, dengan harga nasional mencapai Rp 15.325 per kilogram. Kenaikan ini diseba...

A
Arga Pratama
18 May 2026 19 pembaca
Kenaikan Harga Beras Terjadi di 111 Wilayah di Indonesia
Harga beras mulai naik di beberapa kota. [Suara.com/Alfian Winanto]
suara.com Sumber: suara.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pada minggu kedua Mei 2026, sebanyak 111 kabupaten/kota di Indonesia mengalami kenaikan harga beras. Meskipun harga beras secara nasional masih terbilang stabil, BPS mengingatkan agar pemerintah daerah tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan yang dapat memperburuk situasi.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa harga beras nasional saat ini berada di angka Rp 15.325 per kilogram. Namun, kenaikan harga yang terjadi di sejumlah daerah menunjukkan adanya tekanan yang berbeda-beda di masing-masing wilayah. "Rata-rata nasional Rp 15.325 per kilogram. 111 kabupaten kota mengalami kenaikan harga beras," ungkapnya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi pada Senin (18/5/2026).

Penyebab Kenaikan Harga Beras

Amalia menjelaskan bahwa kenaikan harga beras di setiap daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi produksi, distribusi, dan waktu panen. Meskipun secara nasional harga beras masih terkendali, beberapa daerah mulai merasakan tekanan akibat stok yang semakin menipis. Beberapa daerah seperti Kabupaten Mahakam Ulu, Teluk Bintuni, dan Kabupaten Paser tercatat mengalami kenaikan harga beras yang cukup signifikan.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga di berbagai daerah adalah belum masuknya masa panen serta terbatasnya pasokan di pasar. “Fenomenanya karena stok menipis, kemudian belum panen, karena memang beras masih belum panen sehingga barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit,” jelas Amalia.

Tren Penurunan di Daerah yang Memasuki Masa Panen

Di sisi lain, daerah yang sudah memasuki masa panen justru menunjukkan penurunan harga. BPS memberikan contoh Kabupaten Kapuas yang mengalami deflasi harga beras karena pasokan dari panen lokal meningkat. "Fenomenanya karena masuknya masa panen," tutur Amalia.

Selain faktor panen, intervensi pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga berkontribusi positif dalam menstabilkan harga. Di Murung Raya, program ini dinilai efektif dalam membantu menekan harga beras. "Pedagang sudah mulai menurunkan harga beras seiring dengan beras program SPHP di Murung Raya," tambah Amalia.

BPS menekankan bahwa beras merupakan salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap inflasi, mengingat bobotnya yang besar dalam pengeluaran rumah tangga di Indonesia. "Beras akan sangat berpengaruh terhadap inflasi karena memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat kita relatif tinggi," pungkasnya.

// Artikel Terkait