Wednesday, 01 July 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Minta Perubahan Prioritas Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama lebih dari setahun diharapkan dapat lebih fokus pada kelompok yang berisiko tinggi terhadap stunting, seperti ibu hamil dan balita.

L
Lucas Fabian
23 June 2026 20 pembaca
Foto: Menkes Budi Gunadi Sadikin (Andhika Prasetia/detikFoto)
Foto: Menkes Budi Gunadi Sadikin (Andhika Prasetia/detikFoto)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan selama lebih dari satu tahun dengan tujuan utama mengurangi angka stunting di berbagai daerah yang masih menghadapi masalah ini. Namun, terdapat perhatian dari berbagai pihak mengenai distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang lebih banyak dibangun di wilayah dengan prevalensi stunting rendah, ketimbang di daerah dengan angka stunting yang tinggi.

Dalam konteks ini, Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, menyatakan bahwa program MBG belum memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting di daerahnya. Menurut data dari Dinas Kesehatan Sanggau, prevalensi stunting pada triwulan pertama 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Data menunjukkan bahwa angka stunting pada 2024 berada di 21,48 persen, turun menjadi 20,50 persen pada 2025, namun kembali naik menjadi 21,82 persen pada triwulan pertama 2026.

Usulan Perubahan Fokus Penerima Manfaat

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa penurunan angka stunting melalui program MBG tidak dapat dicapai secara instan. Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengubah target prioritas penerima manfaat program ini. Menurutnya, kelompok yang paling berperan dalam keberhasilan pencegahan stunting adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Kalau MBG ini benar-benar jalan sukses ke depan, itu sangat mengurangi beban kesehatan,” ujar Budi. Ia juga mengungkapkan pentingnya perhatian lebih pada ibu hamil, mengingat kekurangan gizi selama masa kehamilan bisa menjadi penyebab berbagai masalah kesehatan pada anak setelah lahir. “Saya bilang ke Bu Nanik, boleh nggak saya fokus ke ibu hamil. Tolong dibantu supaya gizinya bagus,” tambahnya.

Pentingnya Pengkajian Ulang Program MBG untuk Anak Sekolah

Budi juga menyarankan perlunya pengkajian ulang terkait program MBG untuk anak-anak sekolah. Ia menekankan bahwa meskipun pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah penting, prioritas utama harus diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berada dalam periode emas pertumbuhan. “Begitu hamil jangan sampai kurang gizi karena nanti anaknya banyak masalah kesehatan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa intervensi gizi pada awal kehidupan jauh lebih berpengaruh dalam mencegah stunting dibandingkan ketika anak sudah memasuki usia sekolah. Saat ini, pemerintah masih mengumpulkan data untuk mengevaluasi dampak program MBG terhadap status gizi penerima manfaat. Pemantauan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Yang di sekolah sedang dikerjakan Kemendikdasmen dan Kemenkes. Nanti kita bisa lihat perkembangan gizinya seperti apa. Ini akan jadi evidence based apakah programnya sudah benar atau yang kurang masih di sini-sini,” pungkasnya. Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan data yang menunjukkan penurunan angka stunting akibat program MBG, dan evaluasi berbasis bukti masih dilakukan untuk menilai dampak program terhadap perbaikan status gizi masyarakat.

// Artikel Terkait