Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai dugaan mark up anggaran untuk pengadaan alat kesehatan di RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Pesisir Barat, Lampung. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa angka pengadaan sebesar Rp 30 miliar yang diungkapkan oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, saat peresmian RSUD tersebut merupakan nilai bantuan untuk pengadaan alat kesehatan canggih yang diterima oleh 66 RSUD yang terlibat dalam Program Hasil Cepat Terbaik (PHTC) atau Quick Win.
Rincian Bantuan Alat Kesehatan
Menurut Aji, setiap RSUD akan mendapatkan dukungan alat kesehatan canggih senilai lebih dari Rp 30 miliar dari program SIHREN (Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network). Alat-alat tersebut meliputi cathlab, CT scan 64 slice, echocardiography, mammography, dan lainnya. Untuk RSUD Krui, bantuan yang diterima tahun ini mencapai sekitar Rp 31,7 miliar, yang tidak hanya dialokasikan untuk layanan hemodialisis.
Selain itu, setiap RSUD juga akan menerima bantuan alat kesehatan dasar dengan nilai antara Rp 20 hingga Rp 30 miliar. RSUD Krui sendiri mendapatkan tambahan bantuan sekitar Rp 25 miliar untuk tahun anggaran 2025 dan 2026. Bantuan ini mencakup berbagai alat kesehatan seperti bed patient, defibrillator, mesin anestesi, patient monitor, dan ventilator untuk berbagai layanan kesehatan.
Total Dukungan untuk RSUD Krui
Dengan demikian, total dukungan alat kesehatan yang diterima oleh RSUD KH Muhammad Thohir Krui mencapai sekitar Rp 56,7 miliar. Aji juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh hoaks yang menuduh Menteri Kesehatan melakukan penggelembungan harga dalam pengadaan alat kesehatan. Ia berharap penguatan RSUD Krui dapat meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan di Pesisir Barat, sehingga masyarakat setempat dapat memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik tanpa harus dirujuk ke daerah lain.