Jakarta - Belakangan ini, netizen ramai membahas perbandingan pelayanan kesehatan antara rumah sakit di Indonesia dan luar negeri. Hal ini berawal dari unggahan content creator Fahira Almira yang menceritakan pengalamannya berobat usus buntu, yang kemudian menimbulkan tuduhan adanya endorsement dari rumah sakit di Penang, Malaysia. Perbedaan diagnosis usus buntu yang dialami Fahira di tiga rumah sakit di Indonesia dibandingkan dengan rumah sakit di Penang memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan adanya "black campaign" yang dilakukan oleh kreator tersebut. Sebagian orang berpendapat bahwa konten tersebut merupakan bentuk iklan terselubung.
Unggahan tersebut dinilai dapat merusak citra profesi dokter dan menjadi perhatian banyak pihak. Salah satu yang memberikan tanggapan adalah dr Dicky Budiman, seorang dokter dan pakar Global Health Security. Menurutnya, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut terkait kasus ini. Ia menyarankan Kementerian Kesehatan RI untuk menyelidiki kontroversi ini agar tidak merusak reputasi dokter di Indonesia. "Saran saya, ya, investigasi resmi dari Kemenkes supaya ada langkah proporsional dan tepat, ya, untuk memverifikasi apakah ini kritik jujur berbasis fakta medis atau kampanye komersial terselebung," ungkap dr Dicky.
Permintaan Verifikasi dari Kemenkes
Dr Dicky juga menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan dapat melakukan verifikasi dengan meminta rekaman medis resmi jika ada keraguan mengenai diagnosis yang diberikan. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga memberikan respon terhadap situasi ini. Ia menyatakan bahwa pihaknya belum melihat konten video yang dimaksud dan akan memeriksa terlebih dahulu. "Saya belum lihat, tapi nanti saya akan catat, nanti aku cari," kata Menkes Budi saat ditemui oleh wartawan di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Reaksi dari IDI
Selain itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga memberikan tanggapan mengenai viralnya dugaan "black campaign" yang melibatkan rumah sakit di Penang. Mereka menilai bahwa hal ini dapat menyudutkan dokter-dokter di Indonesia. Kontroversi ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga integritas profesi medis dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.