Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Kemarahan Publik Terkait Insiden Pasien BPJS dan Dokter, Psikiater Berikan Nasihat Empati di Media Sosial

Sebuah insiden di media sosial menghebohkan publik setelah seorang pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan pelayanan yang buruk, di mana ia malah menerima komentar negatif dari tenaga kesehatan. Psikiater m...

R
Rangga Wijaya Kusuma
05 August 2026 62 pembaca
Foto: dok. BPJS Kesehatan
Foto: dok. BPJS Kesehatan

Jakarta - Media sosial menjadi sorotan setelah terjadinya insiden yang melibatkan seorang pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya proses untuk mendapatkan ruang rawat inap. Alih-alih menerima dukungan emosional, pasien tersebut justru diserang dengan komentar negatif yang diduga berasal dari oknum dokter dan tenaga kesehatan. Tragisnya, pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia, memicu kemarahan dari publik. Banyak netizen yang mencari identitas tenaga kesehatan yang terlibat dan menyerang akun tempat mereka bekerja.

Spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa kejadian ini menunjukkan betapa rentannya hubungan antarmanusia ketika berada di bawah tekanan sistem dan pengaruh media sosial. Dalam situasi yang memanas ini, penting untuk menyikapi dengan bijaksana.

Empati dengan Batasan

dr Lahargo menekankan perlunya memiliki empati yang disertai dengan batasan etika dan profesionalisme yang sehat (compassion with boundaries). Baik tenaga kesehatan maupun masyarakat harus menyadari bahwa empati tidak berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan orang lain tanpa melanggar norma. "Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ungkap dr Lahargo.

Hindari Perundungan Digital

Walaupun kemarahan netizen muncul dari rasa solidaritas terhadap korban, dr Lahargo mengingatkan agar kemarahan tersebut tidak berubah menjadi tindakan perundungan yang merendahkan martabat orang lain. "Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegasnya.

Pentingnya Saring Sebelum Berbagi

Untuk menjaga ruang digital agar tidak semakin keruh oleh kemarahan dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan publik untuk menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum menulis atau mengunggah komentar: True: Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta? Helpful: Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan? Inspiring: Apakah kalimat ini memberikan harapan? Necessary: Apakah komentar ini memang perlu disampaikan? Kind: Apakah pesan disampaikan dengan keadaban dan rasa kasih?

Latih Empati Setiap Hari

dr Lahargo juga mengingatkan bahwa empati bukanlah sesuatu yang bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dipelajari dan dilatih secara terus-menerus. "Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita—baik di rumah sakit maupun di dunia digital," pungkasnya.

// Artikel Terkait