Wednesday, 10 June 2026
Finansial

Keluhan Pelaku Usaha Terhadap Biaya E-Commerce yang Meningkat

Pelaku usaha, terutama UMKM, mulai merasakan dampak negatif dari biaya-biaya yang tinggi di platform e-commerce, yang mengancam margin keuntungan mereka.

A
Aulia Rahmawati
11 May 2026 14 pembaca
Keluhan Pelaku Usaha Terhadap Biaya E-Commerce yang Meningkat
Seller mengeluhkan biaya-biaya di e-commerce sudah tak masuk akal. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
suara.com Sumber: suara.com

Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengungkapkan kekhawatiran terkait biaya administrasi, logistik, dan iklan di e-commerce yang terus meningkat, sehingga menggerus keuntungan dari penjualan. Kenaikan harga bahan baku plastik serta kebijakan pengembalian barang yang merugikan semakin menyulitkan operasional pedagang.

Fitria Harmeliani, seorang pelaku usaha di bidang home and living, mengungkapkan bahwa biaya layanan e-commerce semakin memberatkan, terutama bagi reseller dan UMKM yang sudah memiliki margin keuntungan yang tipis. "Biaya admin yang makin ga masuk akal, sedangkan margin kita udah tipis banget, buat UMKM kecil bener-bener kegerus," tuturnya.

Biaya Tambahan yang Membebani

Fitria menjelaskan bahwa beban yang ditanggung oleh penjual tidak hanya berasal dari komisi platform e-commerce. Mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk iklan agar produk mereka tetap muncul di posisi atas dalam pencarian konsumen. "Barang belum kejual aja kita udah mengeluarkan banyak biaya," tambahnya.

Dia juga menyatakan bahwa jika penjual ingin meningkatkan penjualan melalui program afiliasi, mereka perlu menambah komisi di luar potongan yang diambil oleh platform. Fitria, yang menjual produk seperti tempat bumbu dan tempat sendok, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik juga berkontribusi pada peningkatan modal usaha. Banyak pabrik terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan produksi sementara karena biaya operasional yang tidak lagi tertutupi.

Kebijakan Retur yang Merugikan

Selain masalah biaya, Fitria juga menyoroti kebijakan retur barang di marketplace yang sering kali merugikan penjual. Dia menjelaskan bahwa terdapat banyak kasus di mana pembeli mengajukan pengembalian dengan alasan barang harus dikembalikan dalam kondisi semula, meskipun produk telah dikirim sesuai dengan pesanan. "Kadang seller nanggung ongkir pengembalian barang itu padahal kita udah kirim produk sesuai yang dibeli," jelasnya.

Kondisi ini membuat banyak pedagang kecil berada dalam posisi yang sulit, karena satu-satunya pilihan yang realistis adalah menaikkan harga jual. Namun, langkah ini juga berisiko menurunkan penjualan, mengingat mereka harus bersaing dengan importir atau merek besar yang memiliki modal lebih kuat dan tidak selalu menaikkan harga. "Satu-satunya cara emang naikin harga, tapi penjualan bisa drop karena ada importir dan brand yang kadang modalnya gede. Jadi nggak naikin harga," pungkasnya.

// Artikel Terkait