Saturday, 15 August 2026
Kesehatan

--- Keluhan Pasien BPJS Menunggu 8 Jam Viral, Dokter Senior Berikan Tanggapan ---

--- Sebuah unggahan pasien BPJS Kesehatan mengenai lamanya menunggu ruang rawat inap menarik perhatian publik setelah dilaporkan meninggal dunia. Seorang dokter senior menekankan pentingnya empati dal...

L
Lucas Fabian
05 August 2026 48 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev
Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev
---TITLEEXCERPT--- Sebuah unggahan pasien BPJS Kesehatan mengenai lamanya menunggu ruang rawat inap menarik perhatian publik setelah dilaporkan meninggal dunia. Seorang dokter senior menekankan pentingnya empati dalam pelayanan kesehatan. ---CONTENT---

Jakarta - Sebuah unggahan dari seorang pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan mengungkapkan keluhan mengenai waktu tunggu yang lama untuk mendapatkan ruang rawat inap, yang kemudian menjadi perhatian publik setelah kabar mengenai kematiannya. Dalam unggahannya, pasien bernama Yurizal menulis, "8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs."

Perbincangan mengenai kasus ini semakin meluas ketika muncul tangkapan layar komentar yang diduga berasal dari tenaga kesehatan dan dokter, yang dianggap kurang menunjukkan empati terhadap pasien. Belakangan, seorang yang mengaku sebagai kerabat pasien menginformasikan bahwa pasien tersebut telah meninggal dunia. Hal ini memicu kembali komentar-komentar yang dianggap tidak berempati, bahkan identitas penulis komentar tersebut diungkap oleh netizen, termasuk tempat kerjanya.

Pentingnya Empati dalam Pelayanan Kesehatan

Menanggapi situasi ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya pasien tersebut. Ia juga menekankan pentingnya sikap empati dari dokter saat berhadapan dengan pasien. "Informasi komentar terhadap pasien yang tidak dapat ruang rawat jadi viral. Sambil menunggu konfirmasi bagaimana kejadian sebenarnya, maka disampaikan empat hal yang bersifat umum. Pertama dan utama, turut berduka cita mendalam pada pasien yang meninggal, semoga mendapat tempat mulia di sisi Tuhan YME," ungkapnya.

Prof Tjandra menegaskan bahwa dokter harus memiliki empati serta kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi pasien dengan lebih mendalam. Ia merujuk pada istilah dalam bahasa Jerman, einfühlung, yang berarti kemampuan untuk "merasakan ke dalam". Dalam konteks pelayanan kesehatan, ia menekankan bahwa dokter tidak hanya bertugas untuk memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga harus memahami apa yang dirasakan dan dikeluhkan oleh pasien.

Menjaga Etika di Media Sosial

Ia juga menyoroti bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan jika ada dokter yang tidak menunjukkan empati kepada pasien. Pasien tidak hanya berhadapan dengan keluhan fisik, tetapi juga berbagai masalah lain yang muncul akibat penyakit yang dideritanya. "Harus diingat bahwa pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tetapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami dan diberi empati memadai," tambahnya.

Di sisi lain, Prof Tjandra mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia menegaskan bahwa viralnya kasus ini menjadi pengingat bahwa informasi mengenai kondisi kesehatan seseorang harus disikapi dengan hati-hati. "Viralnya berita ini kembali menunjukkan bahwa seseorang -dan kita semua- harus amat bijak dalam bermedia sosial," ujarnya.

Prof Tjandra juga mengomentari informasi mengenai pasien yang mengaku menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat. Ia menyatakan bahwa informasi tersebut perlu dilihat secara utuh karena ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. "Kesatu sudah mendapat penanganan kesehatan tapi belum mendapat ruang rawat dan kedua barangkali belum mendapat penanganan memadai dan belum juga dapat ruang rawat," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa situasi ini mencerminkan tantangan dalam pelayanan kesehatan yang masih dihadapi di lapangan. "Perlu ada manajemen pelayanan kesehatan yang baik di negara kita agar jangan sampai ada pasien yang terlantar dalam pelayanan di Rumah Sakit," tutupnya.

// Artikel Terkait