Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Kekurangan Dokter Jantung di Indonesia Masih Mengkhawatirkan

Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan signifikan dokter spesialis jantung, dengan hanya 1.639 dokter tersedia dari kebutuhan 6.801 dokter.

A
Arga Pratama
23 July 2026 71 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev)

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami kekurangan ribuan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP). Meskipun alat laboratorium kateterisasi (cath lab) telah didistribusikan secara luas ke berbagai daerah, keterbatasan tenaga ahli menjadi tantangan utama untuk memastikan layanan jantung berfungsi dengan baik.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pemerintah sedang berupaya mempercepat penambahan jumlah dokter spesialis jantung, terutama yang memiliki keahlian dalam kardiologi intervensi. Upaya ini bertujuan agar teknologi kesehatan yang telah dipasang di rumah sakit dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menangani pasien yang mengalami serangan jantung. "Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya," ujar Menkes Budi saat menghadiri Konvokasi dan Inaugurasi PERKI 2026 di Jakarta, pada Sabtu (18/7).

Kenaikan Jumlah Dokter Spesialis Jantung

Berdasarkan data dari Kemenkes, jumlah dokter spesialis jantung dengan kompetensi kardiologi intervensi telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam enam tahun terakhir. Pada tahun 2020, Indonesia hanya memiliki 99 dokter dengan keahlian tersebut, namun jumlah ini telah meningkat menjadi 414 dokter pada tahun 2026, atau bertambah sebanyak 315 orang.

Menkes Budi menambahkan bahwa percepatan penambahan dokter spesialis jantung merupakan salah satu yang tercepat dibandingkan dengan spesialis lainnya. Meskipun demikian, kebutuhan dokter jantung di Indonesia masih belum terpenuhi. Proyeksi Kemenkes menunjukkan bahwa pada tahun 2026, Indonesia memerlukan sekitar 6.801 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, sedangkan saat ini hanya tersedia 1.639 dokter, sehingga terdapat kekurangan sekitar 5.162 dokter.

Distribusi Dokter yang Tidak Merata

Selain jumlah yang masih rendah, distribusi dokter spesialis jantung juga belum merata. Sekitar 63,8 persen dokter spesialis jantung terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Untuk meningkatkan kompetensi, Kemenkes secara rutin mengirim dokter spesialis untuk mengikuti program fellowship jantung di luar negeri. Hingga saat ini, sebanyak 98 dokter telah diberangkatkan ke Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia, dengan 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali bertugas di Indonesia, sementara 10 dokter lainnya dijadwalkan untuk segera berangkat.

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah, Renan Sukmawan, menekankan bahwa peningkatan jumlah dokter harus diimbangi dengan kualitas pendidikan yang konsisten. Saat ini, program pendidikan spesialis jantung telah berkembang dari dua menjadi 18 program studi yang berbasis di universitas maupun rumah sakit. "Bagi kami di Kolegium Jantung, jalur pendidikan mana pun yang ditempuh tidak menjadi masalah. Yang paling penting adalah kualitas lulusannya harus sama melalui ujian nasional (board examination), demi melayani masyarakat di seluruh pelosok negeri," katanya.

Renan juga mengingatkan pentingnya menjaga etika profesi agar setiap tindakan medis dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien. Diagnosis dan terapi yang tepat juga sangat penting untuk mencegah tindakan medis yang tidak perlu dan memastikan bahwa pembiayaan BPJS Kesehatan digunakan secara efektif. Sementara itu, Ketua PERKI, Ade Median Ambari, yang baru saja mengukuhkan 79 dokter spesialis jantung baru, mengingatkan agar semua lulusan tetap mengedepankan prinsip evidence-based medicine dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Menkes Budi menekankan bahwa profesionalisme sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter. "Profesi ini akan hilang maknanya kalau masyarakat kehilangan kepercayaannya. Once the trust of the people is gone, then our profession juga hilang," tutupnya.

// Artikel Terkait