Wednesday, 01 July 2026
Finansial

Kekecewaan Pengemudi Ojol Terhadap Kebijakan Potongan 8 Persen

Sejumlah pengemudi ojek online di Jakarta mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan potongan 8 persen yang diterapkan pada layanan GrabHemat mulai Juli 2026. Mereka khawatir potongan baru ini akan m...

D
Dimas Adhyaksa Putra
01 July 2026 1 pembaca
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di seberang Stasiun Palmerah, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di seberang Stasiun Palmerah, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
suara.com Sumber: suara.com

Di Jakarta, sejumlah pengemudi ojek online (ojol) menyampaikan rasa kecewa mereka atas penerapan kebijakan potongan 8 persen pada layanan GrabHemat yang mulai berlaku pada Juli 2026. Mereka merasa bahwa kebijakan ini berpotensi mengakibatkan akumulasi potongan yang lebih besar dibandingkan dengan skema pembagian hasil yang ada sebelumnya.

Seorang pengemudi Grab bernama Refli (27) mengungkapkan bahwa awalnya ia menyambut baik kebijakan tersebut, karena ia mengira potongan 8 persen tersebut akan diterapkan pada layanan reguler yang selama ini memiliki potongan lebih tinggi. Namun, setelah mengetahui bahwa potongan itu berlaku untuk layanan yang lebih murah, yaitu GrabHemat, ia mulai merasa khawatir. "Awalnya sih saya jujur ya, senang gitu. Karena kan saya kira yang 8 persen itu buat yang standar. Ternyata malah buat yang hemat (bagi hasil)," ungkap Refli di Jakarta.

Kekhawatiran Terhadap Pendapatan

Refli menjelaskan bahwa potongan pada layanan reguler dapat mencapai 20 hingga 30 persen, sementara GrabHemat biasanya hanya dikenakan potongan sekitar 5 hingga 10 persen. Namun, dengan skema bagi hasil yang baru, ia memperkirakan total potongan yang dibebankan justru bisa lebih besar. "Yang saya takutin malah lebih gede dari yang biasanya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebagian besar order yang diterimanya berasal dari GrabHemat, dengan pendapatan kotor rata-rata mencapai Rp300 ribu per hari.

Setelah mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp110 ribu untuk sewa motor listrik, baterai, dan kebutuhan makan, Refli berharap agar pihak aplikator memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai mekanisme perhitungan potongan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan mitra pengemudi. "Kalau menurut saya sih lebih transparan aja ya. Kayak misalnya yang 8 persen ini kan enggak dikabarin tuh gimana-gimananya, apa yang berubah gitu," tuturnya.

Pengalaman Pengemudi Lain

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh pengemudi lain, Saripudin Asra (51). Pada hari pertama penerapan aturan baru, ia mengaku sudah merasakan penurunan pendapatan dari sejumlah order GrabHemat yang diterimanya. "Baru berjalan satu hari, saya ngerasain kayaknya terpuruk," kata Saripudin. Ia menjelaskan bahwa selama ini pendapatan hariannya berkisar Rp150 ribu, dan dengan skema baru ini, ia khawatir penghasilannya akan semakin berkurang setelah potongan dihitung secara akumulatif pada akhir hari.

Meski demikian, Saripudin mengaku masih menunggu hasil perhitungan potongan pada malam hari untuk mengetahui dampak sebenarnya dari kebijakan tersebut. Ia berharap agar skema baru ini dapat dievaluasi jika terbukti mengurangi pendapatan para mitra pengemudi. "Mudah-mudahan sih cuman 3 bulan doang, mungkin ada perubahan lagi," pungkas Saripudin.

// Artikel Terkait