Wednesday, 01 July 2026
Finansial

Kekacauan Pasar Keuangan: IHSG dan Rupiah Tertekan Signifikan

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat pada Rabu (24/6/2026), dengan IHSG merosot tajam dan nilai tukar rupiah melemah drastis akibat aksi jual besar-besaran.

H
Hanafi Syahputra
24 June 2026 17 pembaca
Bank Indonesia memastikan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar cukup untuk intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah. [Antara]
Bank Indonesia memastikan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar cukup untuk intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah. [Antara]
suara.com Sumber: suara.com

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 3,56 persen, berakhir di level 5.883 pada Rabu (24/6/2026). Penurunan ini disebabkan oleh aksi jual masif dari investor institusi dan asing. Salah satu faktor utama yang memicu kejatuhan pasar adalah laporan dari MSCI mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi penurunan status pasar modal Indonesia.

Pasar keuangan domestik mengalami tekanan yang sangat besar pada sesi perdagangan tersebut. Sentimen negatif baik dari global maupun regional menyebabkan terjadinya aksi jual yang meluas, sehingga IHSG terjun ke zona merah dan nilai tukar rupiah hampir menyentuh level psikologis baru di Rp18.000 per dolar AS. IHSG ditutup dengan penurunan tajam sebesar 217,45 poin, menjadikannya 5.883. Pada awal sesi, indeks dibuka dengan optimisme di level 6.128 dan mencapai puncaknya di 6.171, tetapi tekanan jual yang kuat di sesi kedua membuat indeks jatuh ke level terendah harian di 5.876.

Kenaikan Volume Transaksi dan Penyebab Penurunan

Pelemahan IHSG berdampak langsung pada nilai transaksi harian yang melonjak drastis hingga mencapai Rp32,93 triliun. Total volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 40,1 miliar lembar dengan frekuensi perdagangan yang sangat tinggi, mencapai 1,75 juta kali transaksi. Menurut laporan riset dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), penurunan indeks disebabkan oleh ketidakmampuan IHSG untuk mempertahankan momentum penguatan di awal perdagangan. Tekanan jual dari investor institusi dan asing meningkat tajam setelah indeks gagal menembus area resistansi kuat di rentang 6.200 hingga 6.300, sehingga menyebabkan jebolnya level psikologis penting di 6.000.

BRIDS menyatakan bahwa pemicu utama kepanikan pasar adalah reaksi negatif terhadap rilis dokumen MSCI 2026 Market Classification Review. Meskipun MSCI memutuskan untuk tetap mengategorikan Indonesia dalam kelompok Emerging Market, mereka memberikan catatan negatif dan sorotan tajam terhadap pasar modal domestik.

Rupiah Tertekan oleh Dolar AS

Sejalan dengan penurunan bursa saham, nilai tukar rupiah di pasar spot juga tidak mampu menahan kekuatan dolar AS hingga akhir sesi perdagangan. Mata uang Garuda ditutup melemah 26 poin atau 0,15 persen, berada di posisi Rp17.949 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah mengalami penurunan yang lebih dalam, merosot 99 poin atau 0,55 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal, di mana ekspektasi pelaku pasar global terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) meningkat. Hal ini menyebabkan indeks dolar AS melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Selain itu, tekanan internal akibat runtuhnya pasar saham setelah pernyataan MSCI juga mempercepat pelarian modal asing dari pasar keuangan domestik, yang semakin memberatkan nilai tukar rupiah.

Lukman Leong menambahkan, "Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS yang terus melanjutkan penguatan. Rupiah juga tertekan oleh sentimen pasar saham yang ambrol setelah MSCI yang walau mempertahankan status Emerging Market, namun status tersebut masih akan direview ulang November dan berpotensi di-downgrade ke frontier sehingga bisa menekan rupiah."

// Artikel Terkait