Jakarta - Kasus seorang pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan waktu tunggu delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap menjadi perhatian publik, terutama setelah beberapa dokter dan tenaga kesehatan memberikan komentar yang dianggap merendahkan di media sosial. Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa permasalahan ini harus dilihat dari berbagai sudut pandang.
Di satu sisi, pasien jelas merasakan penderitaan karena harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan. Namun, di sisi lain, tenaga kesehatan juga menghadapi tekanan yang besar dalam menjalankan tugas mereka. "Rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, beban administrasi, serta sistem pembiayaan yang sering kali menimbulkan frustrasi bagi para petugas di lapangan," ungkapnya ketika dihubungi.
Tekanan pada Tenaga Kesehatan
Lahargo menambahkan bahwa tekanan yang terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental tenaga kesehatan. Mereka berpotensi mengalami burnout, compassion fatigue, dan moral injury. Menurutnya, kondisi-kondisi ini dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk berempati jika tidak dikenali dan ditangani dengan baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan juga sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Pentingnya Empati dalam Pelayanan Kesehatan
Meski begitu, Lahargo menekankan bahwa tekanan yang dialami oleh tenaga kesehatan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengeluarkan komentar yang merendahkan martabat pasien, termasuk yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri. Ia mengingatkan bahwa kata-kata yang diucapkan kepada orang lain dapat memiliki dampak besar, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam situasi sulit.
"Namun, seberat apa pun tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang atau mendorong orang lain untuk bunuh diri. Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan seseorang," tegasnya.
Sebelumnya, sebuah unggahan dari pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap meski telah menunggu selama delapan jam menjadi viral di media sosial. Unggahan tersebut mendapat beragam komentar, termasuk dari akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan, yang dinilai tidak menunjukkan empati dan cenderung merundung pasien.
Setelah sembilan hari sejak unggahan tersebut, pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan dilaporkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026, menurut seorang kerabatnya. Komentar tanpa empati dari dokter dan tenaga kesehatan kembali menjadi sorotan dan menuai kecaman dari netizen.