Wednesday, 01 July 2026
Kesehatan

Kebiasaan Sehari-hari Gen Z yang Memicu Gagal Ginjal

Gaya hidup praktis yang diadopsi oleh generasi muda berkontribusi pada peningkatan kasus diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis. Para ahli mengingatkan pentingnya kesadaran akan pola hidup sehat u...

P
Patrick Jonathan
28 June 2026 10 pembaca
Foto: Getty Images/saengsuriya13
Foto: Getty Images/saengsuriya13

Di Jakarta, gaya hidup yang mengutamakan kenyamanan atau convenience-driven lifestyle telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis di kalangan generasi muda. Para pakar memperingatkan bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan penyakit yang sebelumnya umum terjadi pada orang tua kini semakin banyak ditemui pada individu berusia 20-an tahun, bahkan remaja.

Associate Professor Dr Do Dinh Tung, yang menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Duc Giang di Hanoi, Vietnam, menyatakan bahwa diabetes tidak lagi menjadi penyakit yang hanya diderita oleh orang berusia di atas 40 tahun. "Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja," ujarnya.

Pola Hidup yang Berisiko

Menurut para ahli, perubahan dalam pola hidup menjadi faktor utama yang menyebabkan meningkatnya angka diabetes di kalangan anak muda. Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta waktu yang terlalu lama di depan layar gadget berkontribusi pada peningkatan berat badan hingga obesitas. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur, stres yang berkepanjangan, dan penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan juga dapat mengganggu kesehatan metabolik, yang pada akhirnya meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan berbagai komplikasinya.

Komplikasi Serius dari Diabetes

Dr Nguyen Thi Thanh Hai dari Rumah Sakit 19-8 Vietnam mengingatkan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen pasien diabetes mengalami komplikasi pada ginjal. Diabetes merupakan penyebab utama dari penyakit gagal ginjal kronis di seluruh dunia. Sayangnya, banyak pasien muda yang meremehkan penyakit ini, hanya fokus pada kadar gula darah tanpa melakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi ginjal mereka.

Salah satu kasus yang ditangani adalah seorang pria berusia 45 tahun yang telah menderita diabetes selama lebih dari 10 tahun tanpa pemeriksaan rutin. Meskipun merasa sehat, ia mulai mengalami kelelahan dan pembengkakan ringan, yang membuatnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kerusakan ginjal yang serius disertai protein dalam urine yang berlangsung lama. Pria tersebut akhirnya didiagnosis dengan gagal ginjal stadium akhir dan kini harus menjalani cuci darah seumur hidup.

Kerusakan ginjal akibat diabetes umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali tanpa gejala pada tahap awal. Ketika gejala seperti pembengkakan, urine berbusa, frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari, atau kelelahan mulai muncul, fungsi ginjal biasanya sudah mengalami penurunan yang signifikan. Oleh karena itu, banyak pasien baru menyadari kondisi ginjal mereka setelah kerusakan terjadi cukup parah.

Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini untuk mempertahankan fungsi ginjal. Pengidap diabetes disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi ginjal setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun. Pemeriksaan ini mencakup tes urine untuk mengukur kadar albumin dan tes darah untuk mengecek kreatinin serta estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Selain pemeriksaan rutin, pasien juga dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil, mengontrol tekanan darah dan kolesterol, mengurangi konsumsi garam, serta menghindari penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter, terutama obat pereda nyeri yang digunakan dalam jangka panjang.

"Deteksi dini berarti masih ada kesempatan untuk melindungi fungsi ginjal," tegas Dr Hai. Para pakar mengingatkan bahwa tanpa adanya perubahan dalam gaya hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat, semakin banyak anak muda yang berisiko mengalami komplikasi permanen akibat diabetes dan harus menjalani pengobatan seumur hidup.

// Artikel Terkait