Wednesday, 01 July 2026
Kesehatan

Kasus Wanita di Bandung: Dokter Jiwa Ingatkan Bahaya Pasangan Manipulatif

Kasus penganiayaan seorang wanita berinisial YTR di Bandung mencuri perhatian publik, dengan dugaan kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Seorang dokter jiwa memberikan penjelasan mengenai ciri-ciri...

A
Arga Pratama
23 June 2026 18 pembaca
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/bedya
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/bedya

Jakarta - Kasus dugaan penganiayaan yang menimpa seorang wanita bernama YTR (29) di Cileunyi, Kabupaten Bandung, menjadi viral. Korban dilaporkan mengalami penganiayaan oleh kekasihnya hingga harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).

Adik korban, Syahrul Ulum (26), menyatakan bahwa kondisi kakaknya saat ini sangat memprihatinkan. Kejadian ini juga mengungkap fakta bahwa YTR telah hilang kontak dengan keluarganya selama tiga tahun. Syahrul menjelaskan bahwa kedekatan antara kakaknya dengan terduga pelaku yang berinisial TH dimulai saat mereka bertemu di sebuah konser musik pada tahun 2023. Hubungan mereka tampak normal, bahkan TH pernah berkunjung ke rumah orang tua YTR di Rancaekek.

Namun, setelah kunjungan tersebut, YTR mendadak tidak bisa dihubungi oleh keluarganya. "Iya, langsung semenjak saat itu langsung lost contact aja sama Teteh. Padahal sebelum pacaran, biasanya seminggu sekali itu pulang ke sini, soalnya Teteh kerja di Nabati Pasteur dan ngekos di daerah sana," ungkap Syahrul kepada wartawan.

Syahrul menambahkan, "Jadi selama tiga tahun kita nggak dapat kabar. Pernah sekali dapat kabar, katanya ada di Jakarta."

Waspada Terhadap Pasangan yang Manipulatif

Dalam konteks ini, dr. Lahargo Kembaren, seorang spesialis kedokteran jiwa, memberikan penjelasan mengenai karakteristik orang dengan kecenderungan psikopatik. Ia menyebutkan bahwa individu dengan sifat manipulatif sering kali mengenakan 'topeng' yang terlihat manis di awal hubungan. Pada tahap perkenalan, pelaku tidak akan menunjukkan sifat menyeramkan.

Banyak korban yang terjebak dalam pesona pelaku yang tampak perhatian dan romantis, serta mampu menciptakan ikatan emosional yang kuat dalam waktu singkat. "Orang tersebut terlihat protektif, tetapi kemudian menjadi posesif. Bahkan, mulai mengisolasi korban dari keluarga dan teman," jelas dr. Lahargo.

Seiring berjalannya waktu, pelaku akan berusaha mengambil alih kontrol atas kehidupan korban, mulai dari membatasi aktivitas sehari-hari hingga mengontrol komunikasi dengan orang luar. "Memunculkan siklus 'menyakiti lalu meminta maaf', yang membuat korban sulit keluar dari hubungan tersebut," tambahnya.

Tanda Bahaya dalam Hubungan Toksik

Menurut dr. Lahargo, tanda-tanda awal dari hubungan yang berpotensi berbahaya sering kali tidak bersifat fisik. Sebaliknya, tanda pertama yang muncul adalah kebutuhan untuk mengontrol secara berlebihan, manipulasi emosional, serta hilangnya kebebasan korban secara bertahap. "Mereka terjebak oleh kombinasi ketakutan, ancaman, isolasi sosial, dan hilangnya rasa mampu untuk melarikan diri," tegasnya.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat dan manipulatif, serta perlunya dukungan bagi mereka yang terjebak dalam situasi serupa.

// Artikel Terkait