Wednesday, 10 June 2026
Kesehatan

Kasus Dugaan Child Grooming oleh Kepala Sekolah di Tangerang Selatan

Sebuah kasus dugaan child grooming yang melibatkan kepala sekolah di sebuah SMK swasta di Pamulang, Tangerang Selatan, telah menghebohkan media sosial. Pihak sekolah telah menonaktifkan kepala sekolah...

N
Naufal Akbar Abdila
19 May 2026 17 pembaca
Kasus Dugaan Child Grooming oleh Kepala Sekolah di Tangerang Selatan
Ilustrasi (Foto: Getty Images/ozgurcankaya)

Jakarta - Media sosial tengah diramaikan dengan berita mengenai dugaan child grooming yang dilakukan oleh kepala sekolah di salah satu SMK swasta yang berlokasi di Pamulang, Tangerang Selatan. Sebagai respons terhadap perilaku yang sangat tidak pantas tersebut, pihak sekolah telah mengambil langkah untuk menonaktifkan kepala sekolah yang bersangkutan.

Child grooming merupakan tindakan manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan emosional dengan anak atau remaja, biasanya dengan tujuan eksploitasi atau pelecehan seksual. Dalam kasus ini, dilaporkan bahwa kepala sekolah tersebut menargetkan anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah, yang sering disebut sebagai anak fatherless. Tindakan grooming ini diduga telah terjadi berulang kali.

Kerentanan Anak Tanpa Figur Ayah

Walaupun tidak semua anak yang tidak memiliki figur ayah menjadi korban, dr. Lahargo Kembaren, seorang spesialis kedokteran jiwa, menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami kekosongan figur ayah cenderung lebih rentan terhadap manipulasi emosional seperti child grooming. "Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, lalu ada orang dewasa yang hadir dengan perhatian intens, memuji, mendengarkan, dan memberi rasa 'dipahami', anak bisa menjadi lebih mudah dekat secara emosional," jelas dr. Lahargo.

Pelaku child grooming, yang sering disebut sebagai predator, biasanya memiliki kemampuan untuk membaca situasi dengan baik. Mereka mencari celah psikologis pada korban agar dapat tampil sebagai sosok yang hangat, suportif, dan seolah-olah menjadi penolong.

Dampak Negatif dari Grooming

Para predator ini sering menggunakan pendekatan lembut untuk mendapatkan perhatian dari calon korbannya. "Menjadi tempat curhat, bahkan tampil seperti sosok yang 'paling memahami' anak. Anak akhirnya merasa nyaman, bergantung, lalu batas relasi sehat mulai dikaburkan," ungkap dr. Lahargo.

Dampak dari grooming ini dapat berujung pada trauma psikologis pada anak, termasuk gangguan kecemasan. Korban juga dapat merasakan rasa bersalah, malu, dan kesulitan untuk mempercayai orang lain. "Ini dapat menyebabkan gangguan relasi saat dewasa nanti. Banyak korban mengalami kebingungan karena pelaku sebelumnya dianggap sebagai sosok baik atau figur yang dipercaya, tetapi kemudian berubah menjadi sosok yang menakutkan dan membuat tidak nyaman," tambahnya.

Peran Orang Tua dalam Pencegahan

Agar tindakan grooming ini tidak terjadi pada anak, orang tua memiliki peran penting dalam membangun hubungan emosional yang baik. Selain itu, penting untuk menciptakan komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi agar anak merasa nyaman untuk bercerita. Orang tua juga perlu mengajarkan batasan tubuh, privasi, dan relasi yang sehat sejak dini.

"Kenali perubahan perilaku anak, misalnya mendadak tertutup, takut pada orang tertentu, atau terlalu dekat dengan orang dewasa tertentu. Lalu, tingkatkan quality time dan kelekatan emosional dalam keluarga," saran dr. Lahargo. Selain itu, penting juga untuk mengawasi interaksi digital anak, mengingat child grooming kini banyak terjadi melalui media sosial atau chat pribadi.

Anak yang merasa dicintai, didengar, dan memiliki lingkungan yang aman secara emosional biasanya lebih kuat terhadap manipulasi predator, sehingga peran orang tua sangat krusial dalam hal ini.

// Artikel Terkait