Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Kaitan Antara Mimpi Buruk dan Penuaan Dini: Temuan Ilmiah yang Mengejutkan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mimpi buruk yang sering dialami dapat berhubungan dengan penuaan biologis yang lebih cepat dan meningkatkan risiko kematian dini.

D
Dewi Kartika Lestari
26 July 2026 52 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Anna Gorbacheva)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Anna Gorbacheva)

Jakarta - Mimpi buruk yang sering dialami ternyata bukan hanya sekadar gangguan tidur. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi mimpi buruk dengan penuaan biologis yang lebih cepat serta peningkatan risiko kematian dini. Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan dari UK Dementia Research Institute dan Imperial College London, yang menganalisis data dari 183.012 orang dewasa berusia antara 26 hingga 86 tahun, serta 2.429 anak berusia 8 hingga 10 tahun dari enam studi kesehatan jangka panjang.

Pada awal penelitian, peserta dewasa diminta untuk melaporkan seberapa sering mereka mengalami mimpi buruk. Para peneliti kemudian memantau kondisi kesehatan mereka selama 19 tahun. Sementara itu, frekuensi mimpi buruk pada anak-anak dilaporkan oleh orang tua mereka.

Analisis Penuaan Biologis

Untuk mengukur penuaan biologis, para peneliti menilai panjang telomer pada anak-anak, yang merupakan bagian pelindung di ujung kromosom dan dapat memberikan gambaran mengenai proses penuaan sel. Pada orang dewasa, pengukuran dilakukan dengan panjang telomer serta epigenetic clocks, yang merupakan metode untuk memperkirakan usia biologis dan kecepatan penuaan tubuh.

Temuan Penelitian

Hasil penelitian yang dipresentasikan dalam European Academy of Neurology Congress 2025 pada Senin (23/6/2025) menunjukkan bahwa ada hubungan antara seringnya mimpi buruk dengan proses penuaan biologis yang lebih cepat. Peneliti menemukan bahwa individu yang mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki kemungkinan lebih dari tiga kali lipat untuk meninggal sebelum usia 70 tahun dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengalami mimpi buruk. Bahkan, mereka yang mengalami mimpi buruk setiap bulan juga menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat serta risiko kematian yang lebih tinggi.

Menurut peneliti, hubungan antara mimpi buruk mingguan dan kematian dini dalam penelitian ini lebih kuat dibandingkan faktor risiko lain yang telah dikenal, seperti merokok, obesitas, pola makan buruk, dan kurangnya aktivitas fisik. Sekitar 40 persen peningkatan risiko kematian diperkirakan berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih cepat, dan hubungan ini ditemukan baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Penyebab Mimpi Buruk dan Dampaknya

Hubungan antara kualitas tidur dan proses penuaan telah banyak diteliti. Tidur yang terganggu dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, dan mimpi buruk sering kali menjadi indikator adanya gangguan kualitas tidur. Namun, hubungan ini cukup kompleks, karena gangguan tidur akibat mimpi buruk dapat berdampak pada kesehatan fisik, sementara kondisi kesehatan tertentu juga dapat memicu munculnya mimpi buruk.

Ketika seseorang mengalami mimpi buruk, tubuh merespons seolah-olah menghadapi ancaman nyata, yang dapat memicu respons "lawan atau lari" (fight or flight). Hal ini ditandai dengan berkeringat, jantung berdebar, dan terbangun dalam kondisi panik. Menurut dr Abidemi Otaiku, seorang dokter dan ahli saraf dari Imperial College London, mimpi buruk dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dalam jangka panjang, yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres dan dapat berhubungan dengan penuaan sel.

Selain itu, mimpi buruk yang sering dapat mengganggu kualitas dan durasi tidur, padahal tubuh memerlukan tidur yang cukup untuk proses pemulihan dan perbaikan sel. Efek gabungan dari stres kronis dan gangguan tidur dapat berkontribusi pada percepatan penuaan sel dan tubuh.

Langkah Mencegah Mimpi Buruk

Peneliti menyatakan bahwa temuan ini dapat memiliki implikasi penting bagi kesehatan masyarakat. Mengatasi mimpi buruk bisa menjadi langkah yang relatif sederhana untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Meskipun penelitian ini tidak membuktikan bahwa mimpi buruk secara langsung menyebabkan penuaan lebih cepat atau kematian dini, temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi mimpi buruk antara lain menghindari tontonan menakutkan sebelum tidur, menerapkan kebiasaan tidur yang baik, mengelola stres, serta mencari bantuan untuk mengatasi masalah kecemasan atau depresi jika diperlukan. Jika mimpi buruk terus berlanjut dan mengganggu kualitas tidur atau aktivitas sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.

// Artikel Terkait