JPMorgan, perusahaan investasi dan keuangan terkemuka, memberikan sinyal yang menggembirakan bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Dalam laporan riset ekuitas yang dirilis pada 19 Juli 2026 berjudul "Micro trumps macro; tactical upgrade to OW", JPMorgan meningkatkan peringkat saham BBRI dari Underweight menjadi Overweight, sebuah lonjakan dua tingkat sekaligus, dengan target harga baru sebesar Rp3.400 per saham hingga Juni 2027, naik dari sebelumnya Rp2.730.
Keputusan ini cukup menarik karena menunjukkan perubahan pandangan yang signifikan. Di paruh pertama 2026, analis JPMorgan yang dipimpin oleh Harsh Wardhan Modi masih mempertahankan rating Underweight untuk saham bank milik negara terbesar di Indonesia tersebut. Namun, di tengah tantangan makroekonomi yang belum sepenuhnya mereda, mereka kini menilai bahwa kekuatan fundamental bisnis mikro BRI cukup solid untuk mendorong kenaikan harga saham. Tesis ini tercermin jelas dalam judul laporan yang menyatakan bahwa aspek mikro lebih dominan dibandingkan makro.
Perbaikan Kualitas Aset Menjadi Fokus Utama
Inti dari optimisme JPMorgan terletak pada perbaikan kualitas aset di segmen mikro. Laporan tersebut menyebutkan bahwa BBRI telah memperketat proses underwriting dan meningkatkan penagihan, yang berdampak pada penurunan biaya kredit mendekati panduan manajemen tahun ini. Salah satu langkah strategis yang menjadi sorotan adalah pengurangan beban kerja bagi petugas kredit mikro. BRI telah menurunkan rasio jumlah debitur mikro per petugas menjadi 456, dari sebelumnya 528 debitur pada tahun 2022, dan berencana untuk menekan angka tersebut lebih jauh mendekati 400 debitur per petugas. Langkah ini memungkinkan pemantauan dan penagihan yang lebih efektif.
Tanggung jawab petugas kredit juga dipersempit agar mereka dapat fokus pada pengelolaan kredit yang lancar dan bermasalah, sementara penjualan aset yang telah dihapusbukukan dialihkan kepada pihak ketiga. Hasilnya, JPMorgan mencatat adanya perbaikan pada indikator net downgrade to NPL di segmen mikro. Untuk segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kebijakan yang membatasi fasilitas pinjaman maksimal 75% dari kelebihan arus kas, di samping syarat agunan, juga berkontribusi pada kinerja kredit yang lebih baik. Meskipun terdapat tantangan dalam kredit konsumer, terutama pada KPR, JPMorgan berpendapat bahwa dampaknya tidak cukup signifikan untuk menghambat perbaikan kualitas aset di tingkat bank secara keseluruhan.
Pengaruh Program Pemerintah terhadap Arus Kas
Menariknya, JPMorgan mengaitkan perbaikan arus kas nasabah di lapisan bawah dengan berbagai program pemerintah. Efek rembesan dari program makan bergizi gratis dan pembentukan koperasi dianggap berkontribusi pada peningkatan arus kas di kalangan nasabah inti BRI. Selain itu, pencairan berbasis kebijakan dan subsidi energi serta subsidi lainnya dinilai membantu mengurangi tekanan arus kas bagi segmen mikro dan pedesaan saat ini. Kombinasi faktor-faktor ini membuat JPMorgan menyimpulkan adanya potensi "reli jangka pendek" pada harga saham BRI, memberikan kesempatan bagi investor untuk mengambil posisi taktis dalam waktu dekat.
Dari sisi valuasi, JPMorgan menilai bahwa saham BBRI berada pada level yang menarik. Pada harga Rp2.970 per saham per 17 Juli 2026, BBRI diperdagangkan dengan rasio 7,3 kali Price-to-Earnings (PE) dan 1,31 kali Price-to-Book (PB) untuk proyeksi 2026, yang setara dengan 2,2 hingga 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata 5 dan 10 tahun. Jika dibandingkan dengan bank-bank BUMN besar lainnya, BBRI tampak lebih terjangkau. Laporan tersebut menunjukkan bahwa valuasi BBRI lebih rendah dibandingkan Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia pada metrik PE/PB 5 dan 10 tahun.
Bagi JPMorgan, level valuasi yang sedemikian dalam menunjukkan bahwa berbagai revisi negatif telah "diperhitungkan dalam harga", selama revisi tersebut didorong oleh penurunan laba operasional sebelum provisi, bukan oleh masalah yang lebih mendasar. Target harga Rp3.400 tersebut ditentukan berdasarkan metode Dividend Discount Model (DDM) dengan asumsi P/BV wajar 1,24 kali, tingkat pengembalian ekuitas (RoE) yang ternormalisasi sebesar 17,4%, risk-free rate 7,0%, biaya modal 15,4%, dan tingkat pertumbuhan terminal 7%. Dari harga penutupan Rp2.970, target ini memberikan potensi kenaikan sekitar 14%, belum termasuk imbal hasil dividen.
Dalam hal dividen, laporan ini menyoroti salah satu keunggulan BBRI yang sering menarik perhatian investor: imbal hasil dividen yang tinggi.