Ratu Ayu Dewi Sartika, seorang Guru Besar dari Universitas Indonesia, telah mengembangkan sirup emulsi berbahan dasar minyak sawit merah sebagai upaya untuk menanggulangi masalah stunting di Indonesia. Inovasi ini, yang merupakan hasil riset dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS), menunjukkan efektivitas dalam menurunkan risiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada ibu hamil.
Potensi Sirup Sawit Merah dalam Program Gizi
Sirup Sawit Merah ini dinilai mampu memutus rantai stunting dari hulu dan berpotensi menjadi tambahan penting bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Dalam penjelasannya, Ratu Ayu menyatakan bahwa stunting dan wasting tidak hanya menjadi masalah pada balita, tetapi juga sering terjadi pada anak-anak di usia sekolah. Ini sejalan dengan program strategis pemerintah saat ini, yaitu MBG.
“Di usia sekolah, kebutuhan vitamin A sangat penting untuk tumbuh kembang, sekaligus menekan angka stunting dan wasting yang masih marak di kalangan anak sekolah kita. Di sinilah ada peluang besar bagi minyak sawit merah untuk masuk mendukung skema MBG,” ungkap Ratu Ayu dalam sebuah diskusi di Kantor BPDP, Jakarta.
Efektivitas Riset dan Formulasi Sirup
Ratu Ayu menambahkan bahwa jika program MBG berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak di hilir, maka inovasi sirup sawit merah ini berfungsi sebagai jaring pengaman di sisi hulu, terutama pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sejak bayi dalam kandungan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak mengonsumsi sirup ini memiliki risiko empat kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR, yang merupakan indikator utama stunting, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsinya.
Formulasi sirup emulsi dipilih untuk menjaga agar kandungan gizi makro dan mikro tetap utuh. Selama ini, penggunaan minyak sawit merah dalam produk makanan seperti margarin atau mayones sering kali mengalami penurunan kadar beta-karoten akibat pemanasan yang tinggi. Dengan sirup ini, cukup satu hingga dua sendok per hari dapat memenuhi tambahan kebutuhan vitamin A bagi ibu hamil sebesar 300–350 mikrogram dari total kebutuhan harian 850 mikrogram.
Intervensi berbasis sawit ini telah terbukti secara klinis memiliki efektivitas yang setara dengan intervensi medis komersial. Penelitian yang saat ini sedang diproses untuk publikasi di Jurnal Internasional Scopus Q2 diharapkan dapat menjadi dasar bukti klinis untuk perumusan kebijakan nasional.
Integrasi inovasi sawit merah ini, baik untuk ibu hamil maupun sebagai penguat gizi dalam program MBG, sangat sesuai dengan implementasi Asta Cita kelima, yang bertujuan mencapai kemandirian ekonomi dan kedaulatan pangan nasional tanpa ketergantungan pada bahan baku suplemen impor.