Kementerian Perindustrian menginformasikan bahwa industri kulit dan alas kaki mengalami penurunan pada bulan Juli 2026, yang disebabkan oleh turunnya permintaan ekspor. Penurunan ini dipicu oleh perlambatan dalam perdagangan global serta sikap hati-hati konsumen di negara-negara tujuan ekspor.
Industri kulit dan alas kaki tercatat sebagai satu-satunya subsektor manufaktur yang mengalami kontraksi pada bulan tersebut. Kementerian Perindustrian menjelaskan bahwa penurunan permintaan dari pasar luar negeri menjadi penyebab utama, bukan karena lemahnya pasar domestik. Rizki Aditya Wijaya, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, menyatakan bahwa Indeks Kepercayaan Industri (IKI) untuk subsektor ini berada di angka 48,18, yang menunjukkan posisi di bawah ambang batas ekspansi.
Analisis Kontraksi dan Dampaknya
Rizki menjelaskan bahwa kontraksi ini tidak mencerminkan melemahnya struktur industri alas kaki secara keseluruhan, tetapi lebih kepada tekanan yang dialami oleh perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada ekspor. Ia menyebutkan bahwa perusahaan alas kaki yang fokus pada ekspor mengalami kontraksi yang lebih signifikan dengan nilai 42,22, sementara produsen yang melayani pasar domestik masih berada dalam fase pertumbuhan.
Dalam analisis lebih lanjut, komponen IKI menunjukkan bahwa indeks pesanan baru tercatat di angka 48,35, indeks produksi berada pada 49,39, dan indeks persediaan di angka 45,91. Hal ini menandakan bahwa para produsen sedang menghadapi penurunan dalam pesanan yang berpengaruh pada penyesuaian volume produksi mereka.
Faktor Penyebab Penurunan Ekspor
Rizki juga menyoroti bahwa tekanan terhadap industri alas kaki tidak terlepas dari perlambatan perdagangan global. Berdasarkan data dari World Footwear, nilai ekspor dari negara-negara produsen alas kaki utama dunia pada triwulan pertama tahun 2026 mengalami penurunan sebesar 12,3 persen, sementara volumenya menyusut 3,2 persen. Di Indonesia, ekspor alas kaki juga mengalami penurunan sekitar 10 persen, sedangkan impor dari negara tujuan utama ekspor Indonesia turun hingga 18 persen.
Rizki menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan bahwa konsumen di negara-negara tujuan ekspor masih bersikap hati-hati dalam melakukan pembelian. Seluruh perusahaan eksportir yang terlibat dalam survei menyatakan bahwa penurunan pesanan berasal dari pasar luar negeri. Beberapa faktor yang disebutkan termasuk melemahnya kondisi ekonomi di negara mitra dagang, penurunan harga jual ekspor, serta perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan.
Walaupun menghadapi tantangan dalam sektor ekspor, Rizki memastikan bahwa kondisi industri alas kaki nasional secara keseluruhan masih terjaga. Tingkat utilisasi sektor ini tetap berada di kisaran 78 persen, dan permintaan dari pasar domestik menunjukkan pertumbuhan yang positif. "Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan IKI di sektor kulit dan alas kaki berasal dari pasar ekspor," tutupnya.