Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Indonesia Siap Ciptakan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan bahwa Indonesia sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue, yang berpotensi menjadi yang pertama di dunia.

D
Dewi Kartika Lestari
08 July 2026 83 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto
Foto: Getty Images/iStockphoto

Jakarta - Indonesia berpeluang untuk menciptakan sejarah baru dalam bidang pengembangan vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menginformasikan bahwa negara ini sedang dalam proses pengembangan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD), yang diharapkan menjadi yang pertama di dunia.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa lembaganya berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan vaksin ini hingga mencapai tahap uji klinis dan dapat digunakan oleh masyarakat. "Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," ungkap Taruna dalam konferensi pers yang diadakan pada Rabu (8/7/2026).

Pentingnya Pengembangan Vaksin DBD

Taruna menjelaskan bahwa pengembangan vaksin untuk dengue sangat penting, mengingat saat ini belum ada terapi yang benar-benar efektif untuk mengatasi penyakit ini. Ia juga mengenang pengalamannya saat menempuh pendidikan spesialis di University of California, Irvine, di mana ia menangani pasien yang terinfeksi dengue setelah kembali dari Asia Tenggara. "Banyak rekan saya di sana belum memiliki pengalaman menangani penyakit tersebut. Tetapi saya teringat pengalaman bekerja di Indonesia, termasuk saat bertugas di puskesmas, di mana kami cukup sering menangani pasien demam berdarah," tambahnya.

Menurut Taruna, penanganan dengue berfokus pada pengendalian demam dan pencegahan dehidrasi, pendekatan yang berhasil diterapkannya sehingga pasien dapat pulih. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk riset dengue, karena tingginya angka kasus memberikan pengalaman klinis yang berharga bagi tenaga kesehatan dan peneliti di tanah air. "Kalau ini bisa berhasil bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi juga seluruh dunia akan berdampak," tegasnya.

Prototipe Vaksin dan Tahapan Uji Klinis

Taruna menekankan bahwa peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue yang dilakukan saat ini merupakan langkah awal. Vaksin tersebut masih harus melalui serangkaian pengujian, terutama uji klinis, sebelum dapat digunakan secara luas. Sebagai regulator, BPOM akan memastikan bahwa setiap vaksin yang beredar memenuhi tiga syarat utama, yaitu aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik. Meskipun demikian, BPOM tidak ingin regulasi menghambat inovasi. "Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegasnya.

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, menyampaikan bahwa vaksin ini saat ini masih berada pada tahap uji praklinis. Hasil awal menunjukkan respons imun yang cukup menjanjikan. "Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Ia berharap dalam enam bulan ke depan, penelitian dapat dilanjutkan ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia. "Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia dan semoga hasilnya seimbang juga dengan hasil pre-clinical trial," tambahnya. Apabila seluruh tahapan penelitian berjalan sesuai rencana, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah demam berdarah, sekaligus menjadi tonggak baru dalam pengembangan teknologi vaksin baik di Indonesia maupun secara global.

// Artikel Terkait