IHSG mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar 1,98 persen pada pekan lalu, seiring dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing yang mencapai Rp1,35 triliun, terutama pada saham-saham perbankan. Ketegangan geopolitik yang terjadi di Selat Hormuz telah memicu kepanikan di Wall Street dan bursa saham Asia, yang pada gilirannya berdampak negatif pada pasar domestik.
Investor disarankan untuk lebih berhati-hati dan menerapkan manajemen risiko yang ketat, serta memperhatikan sektor energi sebagai langkah antisipasi terhadap volatilitas pasar yang sedang berlangsung. Saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, serta emiten komoditas seperti AMMN dan ANTM menjadi fokus utama dalam aksi jual tersebut.
Pelemahan Pasar Global Mempengaruhi IHSG
Tekanan yang dihadapi pasar domestik sebagian besar disebabkan oleh penurunan yang signifikan di bursa saham Amerika Serikat, khususnya Wall Street, pada akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones tercatat merosot 1,07 persen, S&P 500 turun 1,24 persen, dan indeks teknologi Nasdaq mengalami penurunan paling tajam hingga 1,54 persen. Kepanikan di bursa New York ini dipicu oleh pernyataan tegas dari Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang menimbulkan keraguan mengenai keberlangsungan gencatan senjata.
Investor menjadi khawatir bahwa ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, yang merupakan jalur logistik energi vital, dapat mengganggu pasokan minyak global dan memicu inflasi yang lebih tinggi. Situasi ini semakin diperburuk oleh kondisi domestik di AS, seiring dengan berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Suksesornya, Kevin Warsh, diperkirakan akan menghadapi tantangan besar untuk menaikkan suku bunga acuan jika inflasi global kembali meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Reaksi Pasar di Asia
Kekhawatiran yang melanda pasar global juga cepat menyebar ke bursa saham Asia pada hari Jumat lalu, yang menyebabkan aksi jual besar-besaran di kawasan tersebut. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dengan penurunan lebih dari 6 persen, dipimpin oleh anjloknya saham Samsung Electronics sebesar 8,6 persen dan SK Hynix yang merosot 7,7 persen. Di sisi lain, indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,99 persen, sementara Hang Seng di Hong Kong melemah 1,62 persen, dan ASX 200 di Australia mengalami penurunan tipis sebesar 0,11 persen.
Di tengah situasi yang memanas ini, pasar sedikit mendapatkan angin segar dari berita bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah sepakat untuk menolak kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk perdagangan internasional.