IHSG diperkirakan akan menguji area resistance di level 6.300 pada perdagangan hari ini, setelah sebelumnya ditutup mengalami penurunan signifikan sebesar 1,53%. Penurunan ini terjadi seiring dengan aksi jual bersih oleh investor asing yang mencatatkan akumulasi sekitar Rp280 miliar.
Data perdagangan menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh investor asing antara lain PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Perhatian Terhadap Manajemen Risiko
Fanny Suherman, CFP®, yang menjabat sebagai Kepala Riset Ritel di BNI Sekuritas, mengingatkan agar para pelaku pasar tetap waspada dan mengutamakan manajemen risiko yang disiplin. Ia menjelaskan bahwa jika IHSG tidak berhasil menembus batas resistance yang kuat tersebut, ada kemungkinan indeks akan kembali berkonsolidasi atau mengalami koreksi yang lebih dalam.
Untuk hari ini, rentang support IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.100 hingga 6.200, sedangkan area resistance terdekat diproyeksikan akan menguji rentang 6.300 hingga 6.350. Ketidakpastian dalam pergerakan pasar keuangan domestik ini muncul di tengah sentimen global yang kurang mendukung, setelah bursa saham Amerika Serikat mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Ketegangan Global Mempengaruhi Pasar
Di pasar global, bursa Wall Street mengalami tekanan setelah harapan untuk kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran meredup. Indeks S&P 500 ditutup turun 0,32%, indeks komposit Nasdaq melemah 0,60%, dan indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,34%. Investor kembali fokus pada ketegangan di Timur Tengah setelah pejabat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup jika Amerika Serikat tidak mengubah sikap politiknya.
Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan konflik yang berkepanjangan, yang dapat mengganggu pasokan energi global. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah jenis Brent tetap berada di level tertinggi dalam seminggu, meskipun pergerakannya sangat volatil. Kenaikan harga energi ini memberikan dampak positif pada sektor energi di Wall Street, di mana sektor energi S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 1,1%.
Sementara itu, saham-saham teknologi besar mengalami tekanan, dengan saham Amazon turun 2,1%, Alphabet merosot 3,8%, dan saham SpaceX terpangkas hampir 4%. Namun, saham Apollo Global justru mengalami kenaikan sebesar 6,2%, dan Blackstone melonjak hampir 4%. Di sisi lain, saham Jabil naik 5,9% setelah UBS meningkatkan rekomendasi saham perusahaan manufaktur elektronik tersebut menjadi "buy".