Batu ginjal terbentuk ketika mineral dan senyawa tertentu dalam urin menjadi terlalu pekat dan mulai mengkristal. Meskipun kurangnya asupan air merupakan faktor risiko utama, pola makan yang tidak sehat juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya batu ginjal tanpa disadari. Oleh karena itu, penting untuk memahami kebiasaan makan yang dapat berkontribusi pada risiko ini agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
Kebiasaan Makan yang Meningkatkan Risiko Batu Ginjal
Menurut informasi yang diperoleh dari laman Eating Well, ada beberapa kebiasaan makan yang dapat meningkatkan potensi terbentuknya batu ginjal. Pertama, konsumsi natrium yang tinggi. Ahli diet Ashley Kitchens, MPH, RD menyatakan bahwa mengonsumsi terlalu banyak natrium dapat meningkatkan risiko batu ginjal. Ia menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan olahan dan camilan kemasan. "Asupan natrium yang tinggi menyebabkan ginjal Anda mengeluarkan lebih banyak kalsium dalam urine, yang meningkatkan risiko batu kalsium oksalat, jenis batu ginjal yang paling umum," jelasnya.
Kedua, asupan kalsium yang rendah juga dapat meningkatkan risiko batu ginjal. Ahli diet Melissa Mitri, MS, RD menjelaskan bahwa kalsium berperan penting dalam mengikat oksalat sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh tanpa mengendap dan mengkristal di ginjal. Ketiga, diet yang tinggi protein hewani, terutama daging merah, dapat meningkatkan kadar asam urat dalam urine, sehingga meningkatkan risiko batu ginjal. Sebagai alternatif, disarankan untuk mengonsumsi protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
Selanjutnya, konsumsi gula tambahan yang tinggi juga merupakan faktor risiko yang sering diabaikan. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi satu minuman soda manis setiap hari dapat meningkatkan risiko batu ginjal. "Gula tambahan secara diam-diam meningkatkan risiko batu ginjal jauh sebelum dehidrasi terjadi," ungkap Mitri.
Makanan yang Disarankan untuk Mengurangi Risiko Batu Ginjal
Untuk membantu mengurangi risiko batu ginjal, ada beberapa makanan yang direkomendasikan oleh ahli gizi. Pertama, buah-buahan sitrus seperti lemon dan jeruk merupakan pilihan terbaik karena mengandung sitrat tinggi yang dapat menghambat pembentukan kristal baru. Kedua, makanan kaya kalsium seperti produk susu dan susu nabati yang diperkaya sangat penting. Menurut Mitri, "Mendapatkan cukup kalsium justru melindungi, bukan berisiko." Jika tidak ingin mengonsumsi produk susu, sayuran hijau seperti kale dan bok choy bisa menjadi alternatif yang baik.
Ketiga, penting untuk menjaga hidrasi dengan mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung banyak air, seperti mentimun dan semangka, untuk meningkatkan volume urine dan membantu mengencerkan mineral yang dapat membentuk batu ginjal. Keempat, kacang-kacangan seperti lentil dan kacang merah adalah sumber protein yang lebih baik untuk ginjal, karena lebih rendah purin dibandingkan daging merah. "Kacang-kacangan seperti lentil dan kacang merah adalah sumber protein yang bagus dan lebih rendah purin dibandingkan daging merah, yang mengurangi produksi asam urat dan risiko batu ginjal," kata Kitchens.
Terakhir, biji-bijian utuh seperti oat dan beras merah juga penting karena mengandung magnesium, yang dapat membantu mengurangi pembentukan batu ginjal. "Mengonsumsi biji-bijian utuh seperti oat dan beras merah dalam diet Anda akan memberikan magnesium, yang mengikat oksalat di usus, sehingga mengurangi jumlah oksalat yang mencapai ginjal Anda," tambah Kitchens.