Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter

Generasi Z kini semakin mengandalkan TikTok sebagai sumber informasi kesehatan, bahkan lebih dari saran dokter, menurut survei terbaru.

A
Aulia Rahmawati
11 July 2026 80 pembaca
Gen Z mengandalkan medsos untuk edukasi kesehatan. Foto: Getty Images/pocketlight
Gen Z mengandalkan medsos untuk edukasi kesehatan. Foto: Getty Images/pocketlight

Jakarta - Generasi Z (Gen Z) semakin mengandalkan platform media sosial sebagai sumber informasi kesehatan. Sebuah survei tahunan yang dilakukan oleh perusahaan komunikasi Edelman pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar responden lebih mempercayai informasi kesehatan yang berasal dari TikTok dibandingkan dari dokter. Survei ini melibatkan lebih dari 16 ribu responden berusia antara 18 hingga 34 tahun.

Berdasarkan hasil survei tersebut, 45 persen responden mengaku lebih mengandalkan saran kesehatan dari teman atau keluarga daripada dari tenaga medis. Sementara itu, 38 persen responden lebih mempercayai informasi kesehatan yang mereka temukan di media sosial. Survei ini mencakup responden dari 16 negara, termasuk Australia, Brasil, Kanada, China, dan Indonesia, meskipun data dari Indonesia tidak dimasukkan dalam perhitungan rata-rata global.

Fenomena Gen Z Mengandalkan TikTok

Dr. Charles Carlsen, Chief Technology Officer DRSONO Medical, mengungkapkan bahwa fenomena anak muda yang mencari informasi kesehatan melalui media sosial semakin meningkat. "Sebagai dokter, saya melihat semakin banyak anak muda yang membuka TikTok dan grup percakapan dibandingkan menghubungi dokter. Survei Edelman mengonfirmasi apa yang kami lihat di klinik, yakni hampir separuh Gen Z lebih mengutamakan saran kesehatan dari influencer dan teman sebaya dibanding dokter," jelasnya.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar sepertiga Gen Z (33 persen) pernah membuat keputusan terkait kesehatan mereka berdasarkan saran dari kreator konten yang tidak memiliki latar belakang medis. Gen Z juga dua kali lebih mungkin dipengaruhi oleh orang-orang tanpa kredensial medis dalam pengambilan keputusan kesehatan dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.

Kepercayaan Terhadap TikTok dan Risiko Misinformasi

Di TikTok, banyak konten yang berisi pengalaman pribadi, dugaan diagnosis, dan saran kesehatan, yang sebagian besar dibuat oleh kreator tanpa latar belakang medis. Tagar #medicaladvice telah digunakan lebih dari 39 ribu kali, sedangkan #healthtok memiliki lebih dari 153 ribu unggahan. Meski dokter tetap menjadi sumber informasi kesehatan yang paling dipercaya, kesenjangan kepercayaan ini semakin menyempit di kalangan Gen Z.

Para dokter mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan media sosial sebagai pengganti konsultasi medis. Dr. Carlsen menekankan bahwa pencarian informasi kesehatan melalui media sosial dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat. "Dukungan dari sesama pengguna internet memang bermanfaat, tetapi tidak bisa menggantikan pengobatan berbasis bukti ilmiah," tegasnya. Ia juga pernah menangani pasien yang menunda pengobatan penyakit serius karena mempercayai informasi di internet yang menyatakan kondisinya normal.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Chicago Pritzker School of Medicine pada 2024 menemukan bahwa banyak informasi kesehatan yang tidak akurat beredar di TikTok. Dari analisis terhadap video mengenai sinusitis, sekitar 44 persen video mengandung informasi yang tidak faktual, dengan sebagian besar berasal dari influencer nonmedis.

Peneliti mengingatkan bahwa penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat dapat membingungkan dan membahayakan kesehatan. Beberapa "pengobatan" yang viral di media sosial berisiko, dan ada pasien yang memilih terapi alternatif yang tidak terbukti, yang dapat mengakibatkan kondisi mereka memburuk.

Meski demikian, peneliti juga mencatat bahwa media sosial dapat menjadi sarana edukasi kesehatan yang bermanfaat jika digunakan dengan benar. Masyarakat diimbau untuk selalu memverifikasi informasi kesehatan dengan sumber yang tepercaya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ragu. Penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen video dari tenaga medis yang mengandung informasi tidak faktual, jauh lebih rendah dibandingkan dengan video dari influencer nonmedis.

Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk lebih aktif dalam membuat konten edukasi di media sosial agar informasi yang akurat dapat menjangkau lebih banyak orang. National Health Service (NHS) Inggris bahkan telah meluncurkan akun resmi di TikTok untuk menghadirkan informasi kesehatan berbasis bukti di platform tersebut.

// Artikel Terkait