Sunday, 17 May 2026
Politik & Hukum

Fondasi Stabilitas untuk Membangun Demokrasi di Indonesia

Anggota DPR Azis Subekti menegaskan bahwa stabilitas nasional adalah kunci utama bagi demokrasi di Indonesia, meskipun sering kali disalahartikan sebagai pembatasan kebebasan.

D
Dimas Adhyaksa Putra
10 May 2026 9 pembaca
Fondasi Stabilitas untuk Membangun Demokrasi di Indonesia
Versi Anak Buah Prabowo, Stabilitas Nasional Jadi Fondasi Demokrasi di Indonesia
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Anggota DPR Azis Subekti menyampaikan bahwa stabilitas nasional seharusnya dianggap sebagai pilar utama bagi demokrasi di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa tanpa stabilitas, demokrasi dapat berubah menjadi kekacauan yang membebani masyarakat, melemahkan institusi, dan membuka peluang bagi intervensi kepentingan yang lebih besar daripada sekadar politik domestik. Pernyataan ini disampaikan kepada wartawan pada hari Jumat (8/5).

Legislator dari fraksi Gerindra ini merujuk pada pemikiran Abdul Haris Nasution yang menekankan pentingnya menjaga kesatuan negara agar tidak terpecah. Azis memberikan contoh negara-negara di Timur Tengah, seperti Libya dan Suriah, yang mengalami kehancuran ketika demokrasi diterapkan tanpa adanya stabilitas institusi yang dapat menjaga integrasi.

Pentingnya Institusi yang Kuat

Di sisi lain, Azis menyoroti negara-negara maju seperti Jepang dan negara-negara Nordik yang berhasil membangun sistem demokrasi di atas fondasi disiplin institusi dan keadilan sosial yang tinggi. Ia menegaskan bahwa demokrasi bukan hanya soal kebebasan berbicara, tetapi juga memerlukan institusi yang kuat, hukum yang dipercaya, birokrasi yang efisien, aparat negara yang profesional, ekonomi yang stabil, serta kohesi sosial yang harus terus dipelihara.

Pesan Persatuan dalam Politik

Menanggapi dinamika politik yang ada, Azis juga menekankan pentingnya pesan persatuan yang sering disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa persatuan bukan berarti menyamakan semua pemikiran, melainkan memastikan bahwa kompetisi politik tidak berujung pada permusuhan.

// Artikel Terkait