Penasihat Khusus Presiden di bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa terdapat empat perusahaan yang berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Diperkirakan, lebih dari 5.000 pekerja akan terdampak akibat kondisi ekonomi global yang melemah.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta pada Minggu (21/6/2026), Said Iqbal menjelaskan bahwa dampak dari pelemahan daya beli masyarakat dan gangguan produksi di berbagai sektor menjadi penyebab utama potensi PHK ini. "Jadi perang ini memang memukul daya beli masyarakat dan memukul produksi dari perusahaan-perusahaan. Ada 4 perusahaan yang saya temukan dalam kunjungan langsung ke perusahaan tersebut yang berpotensi mengalami PHK," ujarnya.
Perusahaan yang Terancam PHK
Said Iqbal menyebutkan bahwa perusahaan pertama yang berpotensi melakukan PHK adalah PT Pakerin, yang bergerak di bidang produksi kertas industri di Mojokerto, Jawa Timur. Ia mencatat bahwa sekitar 80 persen dari operasional pabrik tersebut telah berhenti, sehingga 2.500 pekerja terancam kehilangan pekerjaan. "Ditemukan ada potensi ancaman, saya ulangi, ada potensi ancaman 2.500 pekerja akan di PHK," jelasnya.
Selain PT Pakerin, potensi PHK juga ditemukan di PT Pengtai, produsen sepatu yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebanyak 4.000 pekerja di perusahaan ini dilaporkan telah dirumahkan dan berisiko terkena PHK. "Ada potensi ancaman PHK 4.000 karyawan. Baru potensi ya, ancaman PHK 4.000 karyawan," tambahnya.
Penyebab Gangguan Operasional
Said Iqbal menjelaskan bahwa salah satu penyebab terganggunya operasional PT Pakerin adalah modal kerja perusahaan yang tersimpan di Bank Prima, yang mengalami likuidasi dan kini berada di bawah pengawasan otoritas terkait. Hal ini mengakibatkan produksi perusahaan tidak dapat berjalan dengan normal, sehingga ribuan pekerja terancam kehilangan pekerjaan.
Selain itu, PT Feng Tay, yang juga merupakan produsen sepatu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menghadapi situasi serupa. Said Iqbal mencatat bahwa sebanyak 4.000 pekerja di perusahaan ini telah dirumahkan dan berisiko terkena PHK. Penyebabnya diduga terkait dengan berakhirnya pesanan produksi sepatu Nike dan keterlambatan pasokan bahan baku akibat situasi geopolitik global.
Di sisi lain, dua perusahaan yang bergerak di bidang komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto juga disebutkan berpotensi melakukan PHK terhadap ribuan pekerja, menambah daftar perusahaan yang terancam akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu.