Wednesday, 10 June 2026
Kesehatan

Dua Warga Singapura Terisolasi Terkait Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius

Dua orang warga Singapura yang pernah berada di kapal pesiar MV Hondius kini diisolasi untuk menjalani pemeriksaan setelah terdeteksi wabah hantavirus di kapal tersebut.

A
Adib Ahmad Rizaldi
07 May 2026 14 pembaca
Dua Warga Singapura Terisolasi Terkait Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
(Foto: REUTERS/Danilson Sequeira)

Jakarta - Dua warga Singapura yang pernah berada di kapal pesiar MV Hondius kini menjalani isolasi. Mereka sedang menjalani pemeriksaan setelah terjadinya wabah hantavirus di kapal tersebut.

Communicable Diseases Agency (CDA) mengungkapkan bahwa laporan mengenai kedua warga tersebut diterima pada tanggal 4 dan 5 Mei 2026. Saat ini, mereka diisolasi di National Centre for Infectious Disease sambil menunggu hasil tes untuk hantavirus. "Hasil tes mereka belum siap," ungkap CDA dalam pernyataannya pada Kamis (7/5/2026).

Salah satu dari mereka dilaporkan mengalami gejala pilek ringan, tetapi dalam kondisi yang baik. Sementara itu, yang lainnya tidak menunjukkan gejala apapun. Pasien pertama adalah seorang pria berusia 67 tahun yang tiba di Singapura pada 2 Mei, sedangkan pasien kedua adalah seorang penduduk tetap berusia 65 tahun yang tiba pada 6 Mei.

Riwayat Perjalanan Pasien

Keduanya diketahui berada di kapal pesiar MV Hondius sejak kapal berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April. Mereka kemudian turun dari kapal dan berada dalam penerbangan yang sama dengan pasien yang terkonfirmasi positif hantavirus menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dari Saint Helena pada 25 April. "Kasus yang dikonfirmasi tersebut tidak melakukan perjalanan ke Singapura dan kemudian meninggal di Afrika Selatan," jelas CDA.

Jika hasil tes kedua warga Singapura tersebut negatif, mereka tetap akan menjalani karantina selama 30 hari sejak paparan terakhir. Hal ini dikarenakan sebagian besar kasus hantavirus diperkirakan akan menunjukkan gejala dalam periode tersebut. Setelah masa karantina, mereka juga akan dipantau secara jarak jauh selama total 45 hari masa observasi, termasuk melaporkan kondisi kesehatan harian melalui aplikasi pemantauan.

Tindakan Selanjutnya dan Risiko Penyebaran

Namun, jika hasil tes menunjukkan positif, pasien akan tetap dirawat di rumah sakit untuk pemantauan dan pengobatan lebih lanjut, mengingat infeksi hantavirus dapat berpotensi serius. CDA juga menyatakan bahwa pelacakan kontak akan dilakukan untuk mengidentifikasi orang-orang yang sempat berinteraksi erat dengan kedua pasien.

Saat ini, terdapat delapan kasus hantavirus yang terkait dengan kluster di kapal MV Hondius, termasuk tiga kematian. Tiga kasus telah dipastikan positif, sementara sisanya masih dalam tahap penyelidikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran global saat ini masih rendah. Hantavirus biasanya menular melalui paparan debu yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

Meskipun sebagian besar hantavirus tidak menular antar manusia, strain Andes virus yang ditemukan di beberapa wilayah Amerika Selatan diketahui memiliki kemungkinan penularan dari manusia ke manusia. Gejala infeksi hantavirus jenis Andes ini meliputi demam, nyeri tubuh, kelelahan, gangguan saluran cerna, dan sesak napas. Dalam kondisi yang parah, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi syok hingga kematian.

Profesor Ooi Eng Eong dari Duke-NUS Medical School menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami ditemukan pada hewan pengerat. "Hantavirus dapat ditularkan dari hewan pengerat ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi, gigitan tikus, dan cakaran. Namun demikian, penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi," tambahnya.

WHO kini meminta semua orang yang pernah berada di MV Hondius untuk memantau kondisi kesehatan mereka dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala.

// Artikel Terkait