Friday, 19 June 2026
Finansial

Desakan DPR Agar Gubernur BI Mundur Terkait Melemahnya Rupiah

Anggota DPR dari Komisi XI, Primus Yustisio, mengkritik keras kinerja Bank Indonesia terkait penurunan nilai tukar rupiah dan mendesak Gubernur BI, Perry Warjiyo, untuk mundur dari jabatannya.

S
Salsabila Nur Azzahra
19 May 2026 28 pembaca
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Suara.com/Novian)
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Suara.com/Novian)
suara.com Sumber: suara.com

Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, menyampaikan kritik tajam terhadap Bank Indonesia (BI) terkait dengan penurunan nilai tukar rupiah yang semakin mengkhawatirkan. Dalam rapat yang berlangsung pada Senin (18/5/2026), Primus menantang Gubernur BI, Perry Warjiyo, untuk mengundurkan diri karena dianggap gagal dalam menjaga stabilitas moneter nasional.

Penurunan nilai rupiah terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang asing dan disertai dengan tren negatif di pasar modal Indonesia. Primus mengungkapkan bahwa bank sentral telah kehilangan kepercayaan dan kredibilitasnya dalam menjaga stabilitas moneter di tengah gejolak ekonomi global. Ia menggarisbawahi perbandingan yang mencolok antara nilai euro pada tahun 2006 yang berada di level Rp7.000 dan kini hampir mencapai Rp20.000.

Kritik Terhadap Kepemimpinan BI

Politisi dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini secara terbuka menantang Perry untuk menunjukkan sikap ksatria dalam menghadapi kondisi ekonomi yang semakin tertekan. Ia bahkan menyarankan agar Perry mempertimbangkan untuk mengundurkan diri demi kehormatan lembaga, mengacu pada budaya kepemimpinan di Jepang dan Korea Selatan. "Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman, Pak. Harus berani melawan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Itu bukan sikap penghinaan, Anda akan lebih dihormati seperti di Korea atau di Jepang jika tidak bisa melakukan tugas dengan baik," ujar Primus dalam rapat kerja di Gedung DPR.

Tren Negatif Pasar Modal dan Dampaknya

Kritik yang disampaikan Primus tidak tanpa alasan. Ia menunjukkan bahwa indeks pasar modal Indonesia masih menunjukkan tren negatif dibandingkan dengan negara lain yang telah mulai pulih. Sejak terjadinya konflik global pada Februari lalu, bursa saham di banyak negara telah mengalami rebound, sementara Indonesia justru mengalami koreksi yang cukup dalam.

"Dunia sudah rebound, bahkan sudah plus. Namun, Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen. Ini yang membuat global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral kita. Saya harus mempertanyakan hal ini secara tajam," tegasnya.

Primus juga menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga terhadap hampir semua mata uang asing. Ia mengingatkan bahwa saat ini rupiah telah mencapai level terendah yang sangat berisiko bagi stabilitas bank sentral. "Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap ringgit, terhadap Rial, apalagi Hongkong, dolar dan euro," ungkapnya. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahaya bagi potensi krisis ekonomi jika langkah-langkah luar biasa tidak segera diambil oleh otoritas moneter.

// Artikel Terkait