Jakarta Fair 2026 berhasil menarik perhatian masyarakat meskipun situasi ekonomi yang menantang. Acara ini mencatat kehadiran 6,1 juta pengunjung dan total transaksi mencapai Rp8,2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih aktif berbelanja, meskipun dalam kondisi daya beli yang lemah.
Pola Belanja yang Berubah
Fenomena yang dikenal dengan istilah lipstick effect mulai terlihat dalam perilaku belanja masyarakat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, konsumen tidak sepenuhnya menghentikan pengeluaran mereka. Namun, mereka lebih memilih barang-barang dengan harga yang lebih terjangkau, yang tetap memberikan kepuasan. Jakarta Fair menjadi contoh nyata di mana masyarakat tetap berbelanja meskipun harus lebih selektif dalam memilih produk.
Data dari MNC Sekuritas menunjukkan bahwa pengunjung Jakarta Fair 2026 meningkat 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi yang tumbuh 12,3 persen. Rata-rata pengeluaran per pengunjung juga meningkat menjadi sekitar Rp1,3 juta, naik dari Rp1,2 juta pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih bersedia mengeluarkan uang meskipun dalam situasi ekonomi yang sulit.
Hiburan dan Pengalaman yang Terjangkau
Selain belanja, fenomena lipstick effect juga terlihat dalam pola konsumsi hiburan. Konser yang diadakan di Jakarta Fair menarik minat masyarakat yang ingin menikmati pengalaman baru tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Masyarakat lebih memilih pengeluaran kecil yang memberikan kepuasan emosional dibandingkan barang-barang mahal.
Perubahan pola belanja ini juga memberikan peluang bagi perusahaan di sektor konsumer. MNC Sekuritas mencatat beberapa perusahaan yang memanfaatkan momentum Jakarta Fair 2026 untuk meningkatkan penjualan melalui strategi seperti bundling, produk edisi terbatas, dan merchandise. Beberapa emiten yang terlibat antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Mayora Indah Tbk, dan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk.
Perhatian Terhadap Daya Beli
Walaupun angka transaksi di Jakarta Fair cukup besar, ekonom Ronny P Sasmita mengingatkan bahwa fenomena lipstick effect tidak bisa diartikan sebagai tanda menguatnya daya beli masyarakat. Ia menekankan bahwa fenomena ini bisa muncul ketika masyarakat melakukan penghematan dan beralih ke produk yang lebih murah.
Ronny menyatakan, "Jadi, ya, fenomena ini berpotensi mengaburkan pembacaan terhadap daya beli apabila pemerintah hanya melihat apakah masyarakat masih berbelanja atau tidak." Ia menambahkan bahwa meskipun konsumsi masih berjalan, hal ini tidak berarti daya beli masyarakat dalam kondisi yang baik. Pemerintah perlu memeriksa lebih dalam mengenai kualitas konsumsi dan sumber pembiayaan belanja masyarakat.
Menurutnya, jika masyarakat berbelanja namun semakin selektif, sensitif terhadap harga, dan lebih sedikit membeli barang tahan lama, itu bisa menjadi sinyal bahwa mereka sedang beradaptasi terhadap tekanan daya beli yang ada.