Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Dampak Psikologis Terhadap Anak Setelah Kematian Ayahnya yang Diduga Pencuri Ayam di Bali

Sebuah video yang menunjukkan tangisan anak perempuan dari KD, seorang terduga pencuri ayam yang tewas dikeroyok massa di Bali, viral di media sosial. Kejadian tragis ini meninggalkan trauma mendalam...

N
Nabila Safira Putri
27 July 2026 67 pembaca
Ilustrasi trauma (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)
Ilustrasi trauma (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)

Jakarta - Sebuah video yang memperlihatkan anak perempuan dari KD, yang diduga sebagai pencuri ayam di Tabanan, Bali, menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, anak bungsu KD terlihat menangis saat jenazah ayahnya tiba di rumah duka yang terletak di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. KD meninggal dunia setelah dikeroyok oleh massa yang menuduhnya mencuri ayam aduan pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 01.30 WITA.

Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, menyatakan, "Kemarin saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih."

Akibat peristiwa ini, pihak Polres Tabanan telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dengan inisial MJ, WS, KB, ML, dan ND.

Trauma Emosional yang Dialami Anak

Spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa seorang anak yang mengalami kehilangan ayah secara tragis, terutama dalam suasana emosional yang tinggi, berpotensi mengalami trauma. "Dalam kasus yang diberitakan, sang anak tampak menangis histeris saat jenazah ayahnya tiba di rumah duka, sementara peristiwa kematian ayahnya akibat dugaan pengeroyokan masih menjadi perhatian publik dan sedang didalami aparat," ungkap dr. Lahargo.

Dia menambahkan bahwa dari perspektif psikologis, anak tersebut dapat menghadapi berbagai bentuk trauma, seperti:

  • Trauma kehilangan (traumatic grief): Anak tidak hanya kehilangan sosok ayah, tetapi kehilangan tersebut terjadi secara mendadak dan penuh kekerasan, yang membuat proses berduka menjadi lebih berat dibandingkan kehilangan yang terjadi secara alami.
  • Rasa tidak aman terhadap dunia: Pada usia sekolah dasar, anak sedang membangun kepercayaan bahwa dunia adalah tempat yang aman. Peristiwa seperti ini dapat membuat anak merasa bahwa dunia berbahaya dan orang dewasa tidak dapat melindunginya.
  • Risiko gangguan stres pasca-trauma (PTSD): Beberapa anak mungkin mengalami mimpi buruk, mudah terkejut, menghindari pembicaraan tentang ayahnya, sulit tidur, mudah menangis, atau terus mengingat peristiwa tersebut. Jika gejala ini berlangsung lebih dari satu bulan dan mengganggu fungsi sehari-hari, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.
  • Stigma sosial: Selain kehilangan ayah, anak juga berisiko menghadapi cap negatif karena identitas ayahnya. Anak tidak bertanggung jawab atas dugaan perbuatan orang tuanya, namun jika lingkungan terus memberi label negatif, dampaknya bisa berupa rendah diri dan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi sorotan karena tragedi yang dialami KD, tetapi juga menyoroti dampak psikologis yang dialami oleh anak-anak yang terlibat dalam situasi serupa.

// Artikel Terkait