Jakarta - Kebiasaan berkumpul di coffee shop telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Generasi Z. Mereka sering menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah, bekerja dari kafe, atau sekadar bersosialisasi dengan teman-teman. Dalam aktivitas ini, segelas es kopi susu modern hampir selalu menemani, namun kebiasaan ini bisa berisiko bagi kesehatan hati.
Pemakaian gula, susu murni, dan krimer dalam jumlah yang berlebihan dapat memicu atau memperburuk kondisi fatty liver. Hati memiliki peran dalam mengubah kelebihan gula menjadi lemak, dan konsumsi krimer serta susu yang kaya lemak jenuh dapat memberikan beban tambahan pada organ hati.
Pentingnya Memperhatikan Bahan Tambahan
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, menjelaskan bahwa meskipun kopi itu sendiri tidak menjadi masalah, perhatian harus diberikan pada bahan tambahan yang digunakan. "Tapi yang (masalah) tambahannya ini. Entah krimernya, entah gulanya, entah jenis gulanya. Kadang nggak pakai glukosa, pakainya pemanis-pemanis maple syrup, fruktosa, itu justru meningkatkan fatty liver," ungkap dr. Dicky saat ditemui di Jakarta Pusat.
Perbedaan Kebiasaan Ngopi di Indonesia dan Luar Negeri
Dr. Dicky juga menyoroti hasil penelitian yang menunjukkan perbedaan efek konsumsi kopi antara masyarakat luar negeri dan Indonesia. "Kalau di luar negeri orang minum kopi risiko diabetesnya turun. Tapi kalau di Depok nggak, orang minum kopi diabetesnya naik," jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebiasaan minum kopi di Indonesia sering kali melibatkan kopi manis, yang ia sebut sebagai "air gula rasa kopi".
Meskipun ada tren 'less sugar' yang mulai muncul, dr. Dicky mengingatkan bahwa banyak kopi yang masih terasa sangat manis. "Definisi less sugar ini kan kita nggak tahu. Kadang less sugar manis banget loh less sugar-nya," tutupnya.