Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Dampak Diabetes Terhadap Kesehatan Otak dan Risiko Stroke

Diabetes tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ, termasuk otak, dan meningkatkan risiko stroke.

N
Nabila Safira Putri
03 August 2026 53 pembaca
Foto: Ilustrasi stroke (Getty Images/GrafikLab)
Foto: Ilustrasi stroke (Getty Images/GrafikLab)

Jakarta - Banyak orang beranggapan bahwa diabetes hanya berhubungan dengan kadar gula darah. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat merusak berbagai organ tubuh, termasuk otak. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang mengalirkan darah ke otak, sehingga meningkatkan risiko terjadinya stroke serta gangguan fungsi kognitif seperti daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.

Diabetes dan Risiko Stroke

Salah satu komplikasi serius yang dapat muncul akibat diabetes adalah stroke. Mereka yang menderita diabetes memiliki kemungkinan mengalami stroke sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak mengidap penyakit ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar gula darah yang dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah. Seiring berjalannya waktu, pembuluh darah akan menjadi lebih sempit dan kaku, sehingga lebih rentan terhadap pembentukan gumpalan darah. Jika gumpalan ini menghambat aliran darah ke otak, maka dapat menyebabkan stroke iskemik.

"Dengan merusak lapisan dalam pembuluh darah, glukosa membuat pembuluh darah lebih rentan terhadap penyempitan, pengerasan, dan pada akhirnya pembentukan bekuan darah," ungkap Direktur dan Konsultan Senior Neurologi KIMS Hospital Electronic City, Bengaluru, Dr Sujit Kumar.

Otak memerlukan pasokan darah yang kaya oksigen secara terus-menerus agar dapat berfungsi dengan baik. Ketika aliran darah terhenti, sel-sel otak akan mulai mengalami kerusakan dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, stroke merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera. Risiko stroke juga meningkat karena diabetes sering kali disertai dengan kondisi lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, atau penyakit jantung. Kombinasi dari berbagai faktor ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke, termasuk kemungkinan stroke berulang.

Dampak Gula Darah Tinggi terhadap Fungsi Otak

Selain meningkatkan risiko stroke, diabetes juga dapat memengaruhi fungsi otak secara bertahap. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di otak serta memicu peradangan kronis dan stres oksidatif. Kondisi ini dapat memengaruhi cara kerja otak, sehingga beberapa orang mengalami kesulitan dalam mengingat, berkonsentrasi, mempelajari informasi baru, atau mengambil keputusan.

"Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita diabetes dalam jangka waktu lama lebih rentan mengalami demensia vaskular dan penyakit Alzheimer. Namun, hubungan yang pasti antara diabetes dan Alzheimer masih belum terbukti," jelas Dr Kumar.

Tidak hanya gula darah yang tinggi yang perlu diwaspadai, tetapi juga gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia dapat mengganggu fungsi otak. Karena otak bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, penurunan kadar gula darah yang drastis dapat menyebabkan kebingungan, pusing, kejang, bahkan kehilangan kesadaran. Jika kondisi ini terjadi berulang kali dan tidak segera ditangani, maka dapat berpotensi menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada lansia.

Langkah-langkah untuk Melindungi Kesehatan Otak

Menjaga diabetes tetap terkontrol merupakan langkah utama untuk mengurangi risiko stroke dan menjaga kesehatan otak. Ini mencakup minum obat sesuai dengan resep dokter, memantau kadar gula darah, dan mengikuti rencana perawatan yang direkomendasikan. "Pengelolaan faktor risiko kardiovaskular lainnya juga sangat penting. Tekanan darah dan kadar kolesterol harus dijaga dalam kisaran yang direkomendasikan," kata Dr Kumar.

Selain itu, menghindari rokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan memastikan waktu tidur yang cukup juga dapat membantu mengurangi risiko stroke secara signifikan.

// Artikel Terkait