Wednesday, 01 July 2026
Kesehatan

Cara Mengenali Kanker Testis: Pentingnya Pemeriksaan Dini

Dokter spesialis urologi menjelaskan pentingnya deteksi dini kanker testis melalui pemeriksaan mandiri. Gejala awal yang perlu diwaspadai termasuk munculnya benjolan keras.

N
Naufal Akbar Abdila
29 June 2026 10 pembaca
Foto: ilustrasi/thinkstock
Foto: ilustrasi/thinkstock

Jakarta - Dr. Jamin Brahmbhatt, seorang dokter spesialis urologi dan ahli bedah robotik di Orlando Health AS, berbagi pengalaman yang sering ia temui dalam praktiknya. Suatu ketika, seorang pria datang bersama pasangannya setelah berbulan-bulan merasakan adanya benjolan di testis. Pria tersebut awalnya mengabaikan gejala tersebut hingga akhirnya merasa terpaksa untuk memeriksakan diri. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan USG, benjolan tersebut ternyata hanyalah kista jinak, bukan kanker.

“Dia berkata kepada kekasihnya, 'Lihat kan, aku bilang juga tidak apa-apa.' Saya justru mengatakan bahwa dia seharusnya berterima kasih karena hasilnya bisa saja sangat berbeda,” ungkap Dr. Brahmbhatt. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar benjolan pada testis bukanlah kanker, namun ada kemungkinan bahwa beberapa di antaranya adalah tanda awal kanker testis, sehingga pemeriksaan tidak boleh ditunda.

Pentingnya Pemeriksaan Mandiri

Dr. Brahmbhatt mengungkapkan bahwa ia baru pertama kali memeriksa testisnya sendiri saat menjalani pendidikan kedokteran di bidang urologi. Pada saat itu, ia menemukan benjolan kecil dan langsung merasa panik. Namun, setelah diperiksa, benjolan tersebut hanya kista jinak yang kemungkinan sudah ada sejak lahir. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari betapa pentingnya mengenali kondisi tubuh sendiri.

Ia menyarankan agar pria melakukan pemeriksaan testis secara rutin, misalnya saat mandi. Pemeriksaan tidak harus dilakukan setiap bulan secara ketat, tetapi cukup dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi normal testis masing-masing. “Semakin mengenal kondisi normal tubuh, semakin mudah menyadari jika terjadi perubahan,” katanya. Pemeriksaan mandiri ini hanya memerlukan waktu kurang dari dua menit.

Memahami Kondisi Normal Testis

Testis memiliki dua fungsi utama, yaitu memproduksi sperma dan menghasilkan hormon testosteron yang penting untuk massa otot, kepadatan tulang, gairah seksual, suasana hati, dan energi tubuh. Dr. Brahmbhatt menjelaskan beberapa kondisi yang masih tergolong normal, antara lain:

  • Salah satu testis, umumnya sebelah kiri, berada sedikit lebih rendah dibanding yang lain.
  • Ukuran kedua testis tidak selalu sama besar.
  • Terdapat struktur lunak menyerupai gulungan kecil di bagian belakang testis yang disebut epididimis, bukan tumor.
  • Muncul kista kecil pada testis atau epididimis yang umumnya bersifat jinak.
  • Pembuluh darah yang membesar di atas testis (varikokel), selama tidak menimbulkan keluhan berat.
  • Posisi testis yang naik turun akibat perubahan suhu, olahraga, atau rangsangan seksual.

Namun, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan, seperti munculnya benjolan keras pada testis, terutama jika tidak disertai rasa nyeri. Menurut Dr. Brahmbhatt, kondisi tersebut merupakan tanda klasik kanker testis. Berdasarkan data dari American Cancer Society, diperkirakan sekitar 9.800 pria di AS akan didiagnosis kanker testis pada tahun 2026, dengan penyakit ini paling sering menyerang pria muda, khususnya yang berusia 20 hingga 30 tahun.

Meskipun demikian, kanker testis termasuk salah satu jenis kanker dengan tingkat kesembuhan yang tinggi jika terdeteksi sejak dini. Peluang bertahan hidup dapat mencapai sekitar 99 persen. Oleh karena itu, siapa pun yang menemukan benjolan keras pada testis disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter, meskipun tidak merasakan keluhan apapun. Pemeriksaan fisik, USG, dan tes laboratorium dapat membantu membedakan apakah benjolan tersebut merupakan tumor jinak atau kanker.

Dr. Brahmbhatt juga mengingatkan bahwa tidak semua kelainan pada testis berarti kanker. Pembengkakan yang disertai nyeri, kemerahan, rasa hangat, demam, atau nyeri saat berkemih bisa menjadi indikasi epididimitis, yaitu peradangan pada epididimis yang umumnya dapat diobati dengan antibiotik, obat antiinflamasi, dan istirahat. Namun, jika muncul nyeri hebat secara mendadak pada salah satu testis, kondisi tersebut bisa menjadi tanda torsi testis, yang merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.

“Jika tidak segera diatasi dalam hitungan jam, testis bisa kehilangan suplai darah dan akhirnya tidak dapat diselamatkan,” jelas Dr. Brahmbhatt.

// Artikel Terkait