Kolumnis terkenal, Dahlan Iskan, memberikan perhatian khusus terhadap tindakan berani Bupati Siak, Afni Zulkifli, yang menulis surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menagih utang dari pemerintah pusat. Dalam surat tersebut, Bupati Afni meminta pembayaran dana bagi hasil (DBH) yang belum sepenuhnya diterima oleh Pemerintah Kabupaten Siak.
Langkah Berani Bupati Siak
Dahlan Iskan menyoroti tindakan Bupati Siak dalam tulisannya yang berjudul "Bagi Hasil". Dalam tulisan tersebut, ia mengawali pembahasan mengenai program "Reboan" yang diadakan oleh Kementerian Dalam Negeri setiap hari Rabu, di mana Dirjen Otonomi Daerah mengadakan "open house" untuk bupati, wali kota, wakil mereka, dan para gubernur. Menurut Dahlan, keluhan para kepala daerah perlu mendapatkan perhatian serius, mengingat dana transfer dari pusat ke daerah telah dipotong secara signifikan.
Ia mencatat bahwa suara protes atas pemotongan dana transfer tersebut muncul dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau. "Bupatinya bernama Dr. Afni Z, MSi. Bupati baru. Dia tidak merasa cukup dengan forum 'Reboan'. Afni sampai kirim surat langsung ke presiden," ungkap Dahlan.
Tunggakan Utang yang Menghimpit
Dahlan menjelaskan bahwa Pemkab Siak tidak hanya menunggu transfer dana bagi hasil tahun ini, tetapi juga mengingatkan bahwa DBH tahun sebelumnya belum dibayar sepenuhnya oleh pemerintah pusat, dengan total tunggakan mencapai sekitar Rp 1 triliun. "Total tunggakan itu mencapai hampir Rp 500 miliar. Yang ditunggu tahun ini juga Rp 500 miliar," ucapnya.
Lebih lanjut, Dahlan menjelaskan bahwa Afni Zulkifli terpilih sebagai bupati melalui proses yang panjang, termasuk dua kali proses peradilan di Mahkamah Konstitusi. "Dia tidak pakai dana serangan fajar atau dana beli perahu untuk pencalonan," tambahnya. Modal utama Afni adalah reputasinya sebagai putra daerah yang bergelar doktor dan pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah koran di Riau.
Afni merasa tertekan karena ingin segera merealisasikan janji-janji kampanyenya. Ia meminta perhatian dari pemerintah pusat, mengingat ia mewarisi utang sebesar Rp 300 miliar dari bupati sebelumnya.
Selain menyoroti tunggakan utang, Dahlan juga menekankan kontribusi historis Kabupaten Siak terhadap Republik Indonesia. Dulu, Siak merupakan kerajaan Melayu yang besar, yaitu Kerajaan Siak Sri Indrapura, yang kekuasaannya meliputi Temasek, Johor, dan Melaka. Salah satu raja terkenal, Sultan Syarif Kasim II, menyerahkan harta dan wilayahnya untuk perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Catatan Dahlan ini mencerminkan kegelisahan pemerintah daerah terhadap keterlambatan penyaluran dana bagi hasil, yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama bagi daerah penghasil sumber daya alam.