Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

BMKG Menyampaikan Penjelasan Terkait Gelombang Panas di Eropa dan Dampaknya bagi Indonesia

Eropa saat ini mengalami gelombang panas ekstrem yang berdampak pada kesehatan dan infrastruktur, sementara Indonesia dipastikan tidak akan mengalami fenomena serupa.

R
Reza Mahendra
03 July 2026 75 pembaca
Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Ari Saputra/detikFoto)

Jakarta - Saat ini, Eropa tengah menghadapi gelombang panas yang sangat ekstrem di musim panas ini. Lonjakan suhu yang signifikan ini telah mengakibatkan peningkatan kasus penyakit, angka kematian yang berlebihan, serta gangguan pada infrastruktur. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa sejak 21 Juni, sebanyak 1.300 kematian berlebih telah tercatat di Eropa.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," ungkap Tedros pada Minggu (28/6/2026).

Penyebab Gelombang Panas di Eropa

Menanggapi situasi ini, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa disebabkan oleh kombinasi pola atmosfer, letak geografis, dan dampak pemanasan global. Ia menyatakan bahwa salah satu faktor utama adalah terbentuknya pola atmosfer omega block dan heat dome yang menjebak udara panas dari Afrika Utara di wilayah Eropa.

"Heat wave di Eropa terutama dipicu oleh pola atmosfer seperti omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di lintang menengah Eropa. Posisi garis lintang Eropa yang berada di zona subtropis-temperate membuatnya rentan terhadap aliran udara panas dari selatan ketika sirkulasi jet stream terganggu," jelasnya saat dihubungi.

Guswanto juga menjelaskan bahwa omega block adalah kondisi ketika aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega. "Hal ini menciptakan 'kemacetan atmosfer' saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa," tambahnya.

Selain itu, fenomena heat dome terjadi ketika tekanan udara tinggi bertindak seperti 'tutup panci' yang memerangkap udara panas di dekat permukaan. Udara yang turun mengalami kompresi sehingga suhunya semakin meningkat, sementara langit yang cerah membuat radiasi matahari terus memanaskan permukaan bumi. Posisi geografis Eropa juga berperan dalam meningkatkan risiko gelombang panas, karena sebagian besar wilayahnya berada pada lintang 35-55 derajat LU, yang merupakan zona transisi antara wilayah subtropis dan iklim sedang.

Bagaimana Nasib Indonesia?

Perubahan iklim juga berkontribusi terhadap intensifikasi gelombang panas di Eropa. Laju peningkatan suhu di Eropa tercatat mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, yang dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Upaya pengendalian polusi udara di Eropa turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan, karena berkurangnya partikel di atmosfer yang sebelumnya dapat memantulkan radiasi matahari, sehingga lebih banyak panas terserap oleh permukaan bumi.

Gelombang panas yang melanda Eropa menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk mengalami gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa. "Secara geografis, wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," ujarnya.

Ida juga menambahkan bahwa wilayah Indonesia memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat, sehingga dapat disimpulkan bahwa fenomena yang dikenal sebagai gelombang panas atau heatwave tidak akan terjadi di Indonesia.

// Artikel Terkait